Tak Sekadar Tampilkan Karya Seni tapi Juga Dikaji

Antusias nya di bidang seni budaya cukup tinggi. Sejak SMP dia aktif dalam beberapa kegiatan seni budaya. Jagongan Budaya yang dia gagas bersama temannya masih eksis hingga kini.

LATIFUL HABIBI, Ponorogo

Rambutnya gondrong dan berjenggot membuat tampilannya terkesan bersahaja laiknya seniman kebanyakan. Aktivis seni budaya di Ponorogo yang biasa disapa Jenggo ini menjadi salah satu penggagas Jagongan Budaya lebih dari setahun lalu. ‘’Kegiatan ini sebagai tempat belajar kami tentang seni dan budaya,’’ kata laki-laki kelahiran Ponorogo, 6 Desember 1975 ini.

Pemilik nama asli Ahmad Sauji ini sengaja membentuk kelompok kajian sekitar akhir tahun 2015 lalu tanpa nama. Dia hanya menyebut sebagai jagongan bareng. Nama Jagongan Budaya muncul dalam sebuah forum yang diselenggartakan salah satu ormas awal 2016 lalu. ‘’Awalnya tidak langsung disepakati, tapi saya paksa agar namanya Jagongan Budaya,’’ ungkap warga Jalan Sekar Telon, Tonatan, Ponorogo ini.

Jagongan Budaya digelar rutin sebulan sekali. Biasanya pada pekan terakhir. Tujuannya, antara lain untuk mewadahi para pelaku seni dan budaya di Ponorogo dan sekitarnya. Tidak sekadar berkumpul, tapi juga membahas dan mengkaji tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat. Baik budaya daerah maupun modern, bahkan populer. ‘’Juga untuk menambah wawasan, pengetahuan serta pemahaman tentang seni dan budaya,’’ terang suami Nur Aisyiyah ini.

Selain itu, juga mewadahi minat para pelaku seni. Jagongan Budaya tidak hanya berdiskusi, tapi juga ada sesi pementasan karya seni. Setiap pelaku seni bebas tampil. Mulai dari seni tradisional hingga modern. Mulai seni musik, tari, teater dan sebagainya. ‘’Jadi setiap kali pertemuan, karya yang ditampilkan pasti berbeda,’’ jelas bapak dua anak ini.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar