Minggu, 21 Apr 2019
radarmadiun
icon featured
Pacitan

Puluhan Kambing Mati Mendadak, Disperta Periksa Ratusan Hewan Ternak

18 Juli 2017, 19: 00: 02 WIB | editor : Budhi Prasetya

Pemberian vitamin hewan ternak warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, Pacitan

Pemberian vitamin hewan ternak warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, Pacitan (Muhammad Budi/Radar Pacitan)

PACITAN - Peristiwa kematian mendadak kambing ternak milik warga Desa Cokrokembang, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, seolah masih menjadi misteri. Pasalnya, penyebab kematian puluhan kambing itu belum diketahui secara pasti. 

Kondisi ini mengharuskan Dinas pertanian dan Peternakan (Disperta) setempat turun tangan. Hewan ternak milik warga desa setempat dicek kondisi kesehatannya hari ini (18/7).

"Total ada sampai 600 ekor yang kami cek," ujar Petugas Administrasi Kesehatan Hewan Kecamatan Ngadirojo, Suratno.

Pelayanan kesehatan hewan yang digelar Disperta sebagian besar berupa pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh kambing. Vitamin yang diberikan yakni B complex. 

Selain itu, pengobatan juga dilakukan terhadap hewan ternak yang terjangkit penyakit tertentu. Beberapa obat yang diberikan yakni ivermectin, novaldon, atau vetadryl. 

"Tujuan kami memang untuk meningkatkan pencegahan penyakit di Cokrokembang" tutur Kepala UPT Puskeswan Kecamatan Pacitan, drH. Muhammad Taufiq, yang ikut dikerahkan dalam pengecekan kesehatan hewan tersebut. 

Taufiq menyebut, bersama sejumlah dokter hewan lainnya tim bentukan Disperta itu untuk merespon fenomena kematian mendadak 41 kambing ternak warga Desa Cokrokembang. 

Dalam kegiatan itu, tim dokter hewan menukan sejumlah hewan ternak terjangkit penyakit cacing atau singket. Tetapi yang mengarah ke gejala antraks, belum ada. 

"Kalau yang mengarah antraks belum ada. Tetapi kami disini sekaligus survei. Jika memang ada temuan gejala yang menyerupai, tentu akan ada tindakan lebih lanjut," ujarnya.

Sementara itu, Sekdes Cokrokembang, Hemi Triasmoro, mengaku khawatir puluhan kambing ternak yang mati mendadak di desanya akibat serangan penyakit berbahaya. 

"Kami paling khawatir kalau terkena antraks. Semoga hasil penelitian Disperta dan BBVet Wates tidak menunjukkan temuan antraks," ujarnya.

(mn/naz/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia