Rabu, 23 Jan 2019
radarmadiun
icon featured
Ngawi

Warga Jenggrik Tuntut Pembangunan Overpass 

24 Juli 2017, 01: 00: 11 WIB | editor : Budhi Prasetya

Underpass di Dusun Blembem, Desa Jengrik dinilai tak sesuai gambar saat sosialisasi bersama warga sebelum proyek nasional itu dimulai, Sabtu (22/7)

Underpass di Dusun Blembem, Desa Jengrik dinilai tak sesuai gambar saat sosialisasi bersama warga sebelum proyek nasional itu dimulai, Sabtu (22/7) (Loditya Fernandez/Radar Ngawi)

NGAWI – Aksi protes warga Dusun Blembem, Desa Njenggrik, Kecamatan Kedunggalar Ngawi dengan cara memblokade akses masuk ke proyek pembangunan jalan tol Ngawi-Solo bukan tanpa alasan jelas. 

Usut punya usut, warga kecewa karena tidak adanya overpass type 1 sesuai perencanaan awal. Bahkan warga berani menuding proyek nasional bebas hambatan yang ada di desa tersebut tidak sesuai gambar awal. 

Indikasi ini terlihat dari sejumlah postes yang dibentangkan warga dalam aksinya. Diantaranya ‘’Kembalikan seperti rencana awal Overpass tipe 1;  Balekno dalanku sing layak kang; jangan rampas jalan kami; dan selama tuntutan warga belum dipenuhi dilarang merubah akses jalan desa.’’ 

Sugiyanto, perwakilan peserta unjuk rasa, mengatakan warga tidak keberatan terkait pembangunan proyek tol Ngawi-Solo yang melintasi desanya. 

Pun juga tidak meributkan pembebasan lahan, bahkan cenderung mendukung. Sayang, pihak pelaksana proyek dituding tidak konsisten dalam mengawal pembangunan tersebut. 

Saat sosialisasi dihadapan warga, pihak pelaksana menyatakan bakal membangun overpass di persimpangan tol Ngawi-Solo dengan jalan desa tersebut. Gambar lokasi pembangunan juga disampaikan kepada masyarakat. 

‘’Diperencanaan awal memang ada gambar overpass, tetapi setelah proyek berjalan, ada indikasi itu (realisasi overpass,red) tidak ada. Padahal lokasi lainnya sudah,‘’ sesalnya, Sabtu (22/7)

Pihak PT Waskita Karya, justru membangun underpass sekitar 500 meter dari lokasi jalan desa tersebut. Kondisi ini yang membuat warga kecewa. 

Terlebih lagi, warga menilai jika underpass tersebut terlalu rendah, dan dikhawatirkan akan tergenang air saat musim penghujan tiba. Apalagi disekitar lokasi terdapat saluran air. 

‘’Kalau hujan jelas nyembong (tergenang, red). Air dari luar akan masuk jalan tersebut. Air dari saluran irigasi akan rembes juga ke jalan itu (underpass, red),‘’ jelasnya.

Sugiyanto menilai jika underpass itu diklaim bukan jalur pengganti jalan dusun Blembem-Kedunggalar. Tapi akses menuju pemakaman umum desa dan saluran irigasi. 

Ketiga jalur itu, klaimnya sengaja digabung dalam underpas itu. Padahal, dalam perencanaan awal, ketiga akses itu dibuat secara terpisah. 

‘’Baik jalan Blembem-Kedunggalar, jalan menuju makam dan saluran irigasi yang jadi underpass ini seharusnya ada sendiri-sendiri. Tidak digabung seperti kondisi riil dilapangan saat ini, ‘’ paparnya.

Pantauan wartawan koran ini akdi demo itu tidak hanya didominasi kaum pria, sejumlah ibu-ibu ikut turun ke jalan kendati hanya mengenakan daster. 

(mn/odi/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia