Jumat, 22 Mar 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Koleksi Barang Antik untuk Kesenangan

Radio Tabung Antik Setia jadi Teman Pengantar Tidur sejak 1988

16 Agustus 2017, 04: 00: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

Nur Handoyo mencoba memainkan musik pada gramofon produksi 1930 koleksinya, Selasa (15/8)

Nur Handoyo mencoba memainkan musik pada gramofon produksi 1930 koleksinya, Selasa (15/8) (Bagas Bimantara/Radar Madiun )

Usianya masih remaja saat mulai mengenal barang antik. Menempuh pendidikan di Solo membuat Nur Handoyo kerap bermain ke Pasar Triwindu. Kini dia mengoleksi delapan lampu gantung, jam dinding antik, dan gramofon.  Radio tabung juga setia mengantarnya tidur setiap malam hingga sekarang. 

DENI KURNIAWAN, Madiun

NUANSA klasik seketika menusuk mata tatkala bertandang ke rumah di Jalan Kusuma Sari, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Beragam perabot yang mengisi ruangan berkesan kuno. 

Radio tabung produksi tahun 1946 sudah menemani tidur Nur Handoyo sejak puluhan tahun lalu

Radio tabung produksi tahun 1946 sudah menemani tidur Nur Handoyo sejak puluhan tahun lalu (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

Dua lampu gantung mengait di langit-langit. Sebuah gramofon bertengger manis di salah satu sudut ruang tamu. Di sudut lain, berdiri lemari kaca berisi gerabah keramik. 

‘’Peninggalan orang tua,’’ ungkap Nur Handoyo sembari menunjuk lemari kaca yang terawat bersih itu.

Nur mengaku suka dengan benda-benda kuno sejak masih duduk di bangku SMA. Bersekolah di Solo, banyak orang tua temannya yang berdagang barang antik di Pasar Triwindu. 

Nur waktu itu kerap dolan ke pasar barang antik di jantung kota itu bersama teman-temannya. 

‘’Benda-benda antik dulu didapat dari lapak pedagang barang bekas,’’ ungkapnya.

Pria 60 tahun itu menyebut lampu gantung adalah barang antik yang paling sering memerlukan perbaikan. Terlebih, bagiannya yang terbuat dari besi cor. 

Nur dulu sering dimintai bantuan temannya untuk membersihkan karat di lampu gantung bertudung kaca itu. 

‘’Lama-kelamaan saya tertarik, tapi belum punya uang saat ingin membeli,’’ ingatnya.

Keinginannya untuk memiliki lampu gantung yang dapat dikerek naik turun itu sudah tidak terbendung. Nur sengaja membeli bagian per bagian lampu secara terpisah. 

Girang bukan kepalang dirasakannya saat salah seorang pedagang barang antik memberinya bagian lampu dengan gratis.

 ‘’Saya bersihkan dan rakit sendiri. Bagian yang berbahan besi harus dibakar dengan api batok kelapa,’’ ingatnya.

Nur kali pertama memiliki lampu gantung pada 1973 lalu. Hobinya mengoleksi barang antik semakin menjadi. 

Nur sekarang memiliki delapan lampu gantung. Satu di antaranya berukuran 40 sentimeter dengan rangka motif Ratu Wilhelmina. Produk Belanda asli. 

‘’Yang paling besar ukurannya 45 sentimeter, ini ukuran tudung kaca,’’ ungkap suami dari Maryati itu.

Tak hanya lampu gantung yang dikoleksi Nur. Dua jam dinding antik juga menempel di dinding rumahnya. 

Yakni, merek R.A produksi 1940 dan Junghans lansiran 1950 buatan Jerman. Nur mendapatkan jam tanpa baterai itu dari pasar Triwindu Solo. 

‘’Hampir setiap bulan sekali saya ke Solo nyari barang jadul. Kadang-kadang sampai Jogja juga,’’ ujarnya.

Nur juga rela menebus gramofon manual di Jogja pada 1978 silam dengan harga Rp 600 ribu. Seorang kolektor terpaksa melepas gramofon buatan Belanda tahun 1930 itu dengan paket komplet. Sebanyak 18 piringan hitam disertakan. 

‘’Berisi lagu-lagu seriosa, masih bisa diputar sampai sekarang. Saya belum sempat membersihkan piringan, kasihan gramofonnya kalau terpaksa diputar,’’ paparnya.

Untuk merawat benda-benda kuno miliknya, Nur harus rajin membersihkan saban bulan sekali. Tidak perlu perlakuan khusus.

Lampu gantung, jam dinding, dan beberapa barang antik lainnya cukup dilap dengan kain. Nur tidak lagi menggunakan minyak tanah untuk menyalakan lampu gantung. Dia menggantinya dengan lampu listrik. 

‘’Susah sekarang cari minyak tanah,’’ ucapnya.

Namun, perlakuan berbeda dikhususkan untuk merawat si pemutar piringan hitam. Nur wajib menggunakan minyak kelapa saat membersihkan permukaan gramofon. 

Ini agar tidak ada karat yang menggerogoti benda berharga itu. Piringan hitam juga harus dilap secara berkala dengan minyak kelapa. 

‘’Kalau tidak dibersihkan, suara yang keluar jadi berat,’’ jelasnya sembari menyebut ada radio tabung jadul produksi 1946 yang menjadi teman pengantar tidurnya sejak 1988. ****

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia