Jumat, 22 Mar 2019
radarmadiun
icon featured
Magetan

Pilih Bawa Sleeping Bag atau Alami Hipotermia ? 

25 Agustus 2017, 14: 30: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

Tim SAR gabungan saat hendak mengevakuasi jasad Sularno di Hargo Dalem (22/8).

Tim SAR gabungan saat hendak mengevakuasi jasad Sularno di Hargo Dalem (22/8). (Andi Chorniawan/Radar Magetan )

MAGETAN – Tewasnya Sularno, pendaki asal Dusun Sidomulyo, Desa Matesih, Kecamatan Karanganyar, Jawa Tengah, di Hargo Dalem puncak Gunung Lawu bisa dijadikan pembelajaran. 

Pendaki tidak boleh mengabaikan perlengkapan dan logistik yang harus dibawa saat naik gunung tertinggi ke-76 di dunia itu. Sedikit saja menyepelekan, nyawa menjadi taruhannya. 

‘’Saat kami evakuasi dia (Sularno, Red) cuma pakai sarung untuk tidur, tidak membawa SB (sleeping bag, Red). Padahal niatnya di puncak tujuh hari,’’ kata Ketua Paguyuban Giri Lawu (PGL) Jadmiko, Kamis (24/8). 

Miko -sapaan akrab Sujadmiko- menjelaskan, SB merupakan perlengkapan penting bagi pendaki. Terutama jika berniat mendaki lebih dari satu hari. 

Sebab, fungsinya melindungi tubuh dari hawa dingin saat tidur. Belum lagi cuaca di gunung kerap ekstrem dan tidak bisa ditebak. Suhunya bisa di bawah nol derajat Celsius. 

Karena itu, dengan menggunakan peralatan kantong tidur, suhu tubuh pendaki bisa tetap hangat. 

‘’Begitu juga jaket yang dikenakan harus standar, tidak ada batas ketebalan tapi paling tidak waterproof,’’ sebutnya kepada Jawa Pos Radar Magetan. 

Menurut dia, masih banyak pendaki yang minim pengetahuan dalam mendaki. Khususnya mereka yang masih pemula dan naik gunung sekadar ikut-ikutan. 

Padahal, aktivitas mendaki tergolong berbahaya. Tidak sedikit yang nyawanya terancam lantaran perlengkapan yang dibawa tak lengkap dan tidak standar.

Minimnya pemahaman, kata dia, bisa berujung kematian. Hal itu pula yang terjadi pada Sularno. 

‘’Ya memang dia sudah sering dan berpengalaman mendaki. Tapi kalau saat kondisinya tidak fit tetap berbahaya,’’ ujarnya. 

Untuk kasus Sularno, dia menduga terkena hipotermia hingga mengalami pembekuan pada aliran darah. Nah, saat ditemukan, pria yang diketahui tunawicara itu dalam posisi tertidur dengan mengenakan sarung. 

Padahal, kata Miko, orang terserang hipotermia harus diupayakan tidak tertidur dan diberi peralatan penghangat yang memadai. 

Celakanya, saat itu Sularno sendirian sehingga tidak ada yang menolong. Sedangkan penyebab terserang hipotermia diduga karena fisiknya tidak fit, tanpa mengenakan SB, dan perut dalam keadaan kosong. 

‘’Yang kami temukan dalam bedeng tidak ada logistik makanan, hanya susu,’’ ungkapnya. 

Dia meminta pendaki untuk menghidari naik maupun turun mendaki saat malam. Sebab, oksigen berkurang lantaran pohon pada malam memproduksi karbondioksida. 

Selain itu, perlu memiliki keahlian survival (bertahan hidup) jika sewaktu-waktu kehabisan bekal atau tersesat. 

(mn/cor/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia