Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features
Perajin Kayu Jati 

Semakin Detail Pahatan, Semakin Rumit Pengerjaan

Jumat, 15 Sep 2017 14:43 | editor : Budhi Prasetya

Agus Riyanto berpose di samping ukiran kayu daun pintu hasil produksinya. 

Agus Riyanto berpose di samping ukiran kayu daun pintu hasil produksinya.  (Icuk Pramono/Radar Madiun )

Tak ada laut yang tak berombak. Seperti itulah jalan cerita usaha kerajinan limbah kayu jati di Saradan. Besarnya kreativitas kerap terhadang keterbatasan modal, pasar, dan perizinan. Sementara permintaan produk kerajinan tersebut terkadang juga tidak bersahabat. 

DANAR CRISTANTO, Madiun 

Ukiran patung berbentuk naga, iguana, hingga Bunda Maria terpajang rapi di salah satu lapak ukiran kayu di kawasan tepian hutan Saradan, Madiun. Tiga perajin terlihat telaten menatah kayu di pinggiran jalan Madiun-Nganjuk itu.  

‘’Prosesnya lama, bisa berbulan-bulan,’’ kata Agus Riyanto, salah seorang perajin.

Selayaknya karya seni, semakin detail bentuk pahatan, semakin rumit pengerjaannya. Berbagai kerumitan itu setia dilakoni para perajin hingga menghasilkan aneka rupa produksi. 

Mulai beragam furnitur seperti meja, kursi, daun pintu, hingga purwarupa artistik. Menyelesaikan sederet pekerjaan seperti itu jelas memerlukan tangan-tangan terampil. Kayu yang digunakan menyesuaikan pesanan. 

‘’Akan lebih mahal jika menggunakan jati. Harganya berbeda dengan jenis trembesi atau lainnya,’’ papar warga Sidorejo itu. 

Geliat kerajinan limbah kayu berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi warga setempat. Sebab, bisnis ini turut membantu mengurangi angka pengangguran. Secara hukum juga mengurangi praktik illegal logging (pembalakan liar). 

‘’Produksi ini tak bisa digarap sembarang orang. Tapi, saya terus mendidik mereka yang masih amatir agar benar-benar ahli,’’ terangnya. 

Kualitas barang memang tecemin dari keterampilan tangan si pengukir. Itu dibuktikan Agus yang telah sukses memasarkan produksinya hingga Belgia, Jerman, dan Amerika. 

Kendati diakuinya secara kualitas masih di bawah Jepara yang produksinya notabene dikerjakan manual dengan tangan tanpa bantuan mesin. 

Sejak merintis kerajinan bonggol jati ini mulai 2000 silam, Agus dipercaya menjadi ketua Paguyuban Jati Manunggal. 

Komunitas yang tediri dari 13 perajin kayu jati di Saradan ini intens berkumpul dan bertukar gagasan. 

‘’Bisnis ini memang butuh modal tidak sedikit. Duit 100 juta itu hanya bisa mendatangkan 4 truk bahan pokok limbah kayu,’’ urai Agus. 

Selain kerap terganjal permodalan, bisnis ini juga kerap mendapat cobaan saat hujan. Di musim basah itu, perajin kesulitan menyimpan kayu pokok sehingga membuat jumlah produksi turun. Selalu ada kerikil tajam di tengah jalan. 

‘’Perajin juga dituntut memiliki sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) untuk menembus pasar ekspor,’’ terang bapak tiga anak itu. 

Kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang selama ini diharap melecut pengembangan industri daerah ternyata menjadi momok mengerikan. 

Sebab, kebijakan itu membuat pintu impor kerajinan serupa terbuka lebar untuk masuk ke dalam negeri. Jika tak siap, perajin lokal bisa mati kutu. 

‘’Globalisasi membunuh pasar dalam negeri,” keluhnya.

Tak jarang Agus harus “berpuasa” berhari-hari akibat para perajin berkompetisi dengan banting harga produksi. Impitan pasar yang semakin sempit itu membuat antar pengusaha terkesan saling menjatuhkan. 

‘’Itu bukan salah mereka. Semua perajin pasti ingin dagangannya laku. Bagaimanapun caranya,’’ tegasnya. 

Karenanya, dia berharap pemerintah segera terjun ke lapangan memberi dukungan nyata. Agar para perajin lokal mampu bertahan dan bebas berinovasi melebarkan sayap usahanya. 

Namun, sejauh ini pemerintah hanya menyolusikan problem krusial itu dengan menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat). Kegiatan seperti itu jelas tidak bermanfaat jika hanya digelar sekali tanpa kelanjutan pasti. Perajin butuh dukungan lebih dari sekadar sosialisasi. ***

(mn/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia