Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Sportainment

Ajak Lestarikan Bahasa Jawa

Jumat, 29 Sep 2017 19:30 | editor : Budhi Prasetya

Gasella Yamanda Putri Wibowo

Gasella Yamanda Putri Wibowo (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

MADIUN - Menjadi runner-up II Duta Bahasa Jawa Timur 2016 memang membanggakan. Itu dirasakan betul Gasella Yamanda Putri Wibowo. Namun dirinya menyadari bahwa prestasi tersebut juga memiliki konsekuensi. 

Dara 22 tahun itu harus memikul tugas berat untuk  menuntaskan mandat untuk nguri-uri bahasa Jawa. Mengunjungi sekolah dasar hingga sekolah menengah tengah menjadi kesibukanya saat ini. Tak hanya di Surabaya, Sidoarjo juga jadi jujukannya. 

‘’Bahasa Jawa itu lebih kompleks dibandingkan bahasa lain. Sebagai orang Jawa sudah sepantasnya turut serta melestarikan,’’ tutur Gasel-sapaan karibnya. 

Gasel sengaja membandingkan bahasa Jawa dengan bahasa Inggris. Dalam bahasa Jawa, misalnya, ada kosakata gabah, beras, dan sega. 

Dalam bahasa Inggris ketiganya hanya merujuk pada satu kata, yakni rice. Kekayaan bahasa Jawa ini layak diberi poin istimewa lantaran tak dimiliki bahasa lain. 

''Susah sebenarnya bahasa Jawa itu. Belum lagi dengan tingkatan kesopanannya. Ada ngoko, krama, dan krama inggil,’’ terang  gadis yang bermukim di Jalan Raya Solo, Jiwan, Kabupaten Madiun, itu.

Gasel menyayangkan generasi penerus yang tak acuh dengan budaya sendiri hingga memilih budaya barat. Khususnya dalam pemilihan bahasa sehari-hari. 

Padahal, sebagai orang Jawa, tentu bahasa pertama yang diterima adalah bahasa Jawa. Kondisi ini jelas kontras dengan para peneliti dari luar negeri yang malah tertarik dengan bahasa Jawa. Karena itu, dia berpesan kepada muda-mudi untuk mau melestarikan bahasa Jawa. 

Diakuinya tak mudah melestarikan bahasa Jawa di tengah era modernisasi seperti sekarang ini. Di awal mempelajari, Gasel mengaku kesulitan. 

Namun, dia menganggap kekompleksan bahasa Jawa merupakan sebuah kekayaan yang mestinya dapat membuat bangga, bukan malah memunculkan kesan miring bagi penuturnya. 

‘’Universitas Leiden, Belanda, bahkan menyediakan jurusan bahasa dan sastra Jawa sampai S2. Masa kita sebagai penutur asli malah tidak peduli,''  cetusnya sembari tersenyum simpul. 

Perempuan yang juga berprofesi sebagai model ini tak lagi sungkan berbincang menggunakan bahasa Jawa di event resmi. 

‘’Hargai dulu apa yang kita miliki agar orang lain menghargai kita, termasuk bahasa Jawa,’’ pesannya. 

(mn/mg8/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia