Selasa, 20 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features
Kuliner 

Barista Ngawi Getol Kenalkan Kopi Selondo ke Pecinta Kopi

Rabu, 04 Oct 2017 17:00 | editor : Budhi Prasetya

Thomas Waluyo Nugroho, bos sekaligus barista di kafe miliknya

Thomas Waluyo Nugroho, bos sekaligus barista di kafe miliknya (Loditya Fernandez/Radar Ngawi)

Belum tentu semua warga Kabupaten Ngawi tahu jika kota asalnya memiliki komoditas kopi andalan. Pun, sebagian besar penggemar minuman identik warna hitam itu juga masih asing tatkala mendengar kopi Selondo. Hal tersebut diakui oleh Thomas Waluyo Nugroho. lantaran itulah, pecinta kopi dan barista tersebut mulai keranjingan untuk mempromosikannya. 

LODITYA FERNANDEZ, Ngawi

SEMERBAK harum kopi langsung terasa menusuk hidung saat menginjakkan kaki di  salah satu kafe di Jalan Patiunus, Ngawi. Belasan pengunjung terlibat obrolan santai. 

Sementara itu, seorang pria terlihat sibuk di sudut kafe. Dari balik meja bar, sepasang tangannya terlihat menyeduh racikan bubuk kopi dengan air panas. 

’’Tidak perlu gula, karakteristik kopi Selondo memang pahit di awal, tetapi manis di akhir,’’ ungkap Thomas Waluyo Nugroho, lelaki yang dikenal sebagai barista itu. 

Kalimat itu pula yang selalu diucapkan kepada seluruh pelanggan kafenya. Maklum, selain sebagai barista dirinya juga pemilik kafe yang harus memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggannya. 

Selain itu, Thom –sapaan akrab Thomas Waluyo Nugroho- tak ingin pelanggannya kaget dengan rasa yang agak pahit-asam yang berpadu rasa dan aroma nangka yang menjadi ciri khas kopi Selondo. 

’’Lama-lama pasti suka, ’’ imbuhnya.

Thomas sengaja menjadikan kopi Selondo sebagai produk andalan di kafenya. Maklum, kopi tersebut layaknya harta karun baginya. Pasalnya, keberadaan kopi jenis ekselsa itu langka. 

Kebanyakan Arabica dan Robusta. Diperkirakan di Indonesia hanya ada di tanah Selondo, Desa Ngrayudan, Ngawi. Itupula yang membuatnya memilih Selondo sebagai nama kopi temuannya itu. 

’’Sempat konsultasi sama AE 1 (bupati, Red) dan AE 2 (wabup, Red) saat kebetulan buka stan di salah satu event di daerah Selondo,’’ bebernya.

Pilihan nama Selondo sebenarnya tidak lepas dari keinginnya untuk mengenalkan kopi asli tanah kelahirannya itu ke luar kota. Meski begitu, dirinya tidak ingin perkenalan kopi tersebut berujung kecewa. 

Tidak heran, pria kelahiran 16 Desember 1978 itu melakukan sejumlah uji coba. Bahkan, Thom pun sampai rela meluangkan waktunya dua minggu sekali untuk melakukan pendampingan ke petani kopi di Desa Ngrayudan, tempat asal kopi Selondo. 

’’Kami arahkan agar tidak sembarangan memanen. Ambil biji yang merah saja agar kualitasnya bagus,’’ jelasnya.

Suami dari Nunung Sulistyowati itu mengaku jika sejak kecil sudah menyukai kopi. Dirinya pun rajin mampir menikmati kopi di masing-masing coffee shop yang disambanginya. 

Perkenalan dengan kopi Selondo dimulainya secara tidak sengaja sekitar setahun terakhir. Kala itu, Thom jalan-jalan ke seputaran tempat wisata Selondo, Desa Ngrayudan. Saat mampir di warung kecil, lidahnya dikejutkan dengan rasa kopi yang diminumnya. 

’’Karena belum pernah merasakan kopi seperti yang dijual warung itu,’’ tambahnya.

Thom pun tidak sungkan untuk bertanya asal kopi yang dijajakan kepadanya sore itu. Ternyata, kopi tersebut produk asli petani desa setempat. Rasa penasaran membuatnya terus menelisik lebih soal kopi Selondo. 

’’Eman-eman, karena panennya langsung diambil sekaligus. Biji yang masih hijau dan yang merah. Itu pula di sangrai. Kalau pakai dripper lebih terasa cita rasanya,’’ ungkapnya.****

(mn/odi/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia