Selasa, 20 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Mejayan

Tembakau Mahal Tersengat Panas Maksimal 

Minggu, 08 Oct 2017 13:00 | editor : Budhi Prasetya

harga tembakau

Sempurnanya hasil panen di tahun ini memutus kerugian petani tembakau di tahun lalu  (R.Bagus Rahadi/Radar Madiun)

PILANGKENCENG – Dewi Fortuna tengah menaungi petani tembakau di Kabupaten Madiun. Cuaca panas tahun ini membuat produksi menjadi sempurna. 

Kualitas daun-daun tembakau yang dipasok untuk bahan baku rokok pun membuat tak mengecewakan. Para petani kini bisa menghela napas panjang menikmati hasil panen yang menggiurkan tersebut. 

Prawito, petani tembakau di Desa Ngale, Pilangkenceng, mengatakan, tahun ini dia sudah memanen tanaman tembakaunya 2,4 ton. Padahal, tahun lalu dia hanya dapat membawa pulang 1 ton daun tembakau. 

Peningkatan bobot hasil panen yang lebih dari 100 persen itu membuatnya kegirangan. Pun kualitas daun tembakau menabah senyum Prawito makin mengembang. Alhasil, kerugian di tahun lalu pun terbayar sudah. 

‘’Tahun lalu rugi besar,’’ ungkapnya.

Diakui kakek 65 tahun itu, meningkatnya hasil panen itu didukung faktor cuaca. Mulai masa tanam bulan Juni lalu, matahari bersinar sempurna. 

Tak ada guyuran hujan sekali pun. Sehingga daun-daun tembakau tidak cepat membusuk. Begitu pula dengan batangnya yang kokoh tidak termakan hama. 

‘’Tanaman tembakau justru rusak jika kena air banyak,’’ jelasnya.

Prawito yang sudah menjadi petani tembakau sejak 1980 itu akhirnya bisa menikmati pundi-pundi rupiah dari hasil panen tembakau. Harga tembakau kering terbilang tinggi. 

Kualitas daun tembakau yang paling bawah dibanderol Rp 26 ribu per kilogramnya. Maklum, daunnya lebih tipis dibandingkan daun di atasnya. 

Daun tengah bisa mencapai Rp 42 ribu per kilogram. Sedangkan harga daun tembakau paling atas mencapai Rp 45 ribu per kilogram. 

‘’Semakin ke atas semakin tebal. Semakin mahal,’’ terangnya.

Ketua Kelompok Petani Tembakau Lilik Indarto mengatakan, tahun ini memang menjadi tahunnya petani tembakau. Sebab, harga jual tembakau yang sempat anjlok tahun lalu kembali normal. 

Lantaran guyuran hujan di sepanjang tahun, kualitas daun tembakau di tahun lalu menjadi jelek. Harganya menurun tinggal Rp 7–15 ribu per kilogram. 

‘’Dulu cuacanya memang tidak mendukung,’’ ungkapnya.

Menurut Kades Ngale itu, masa tanam tembakau terbilang singkat. Hanya berkisar 70 hari. Namun, tidak semua petani menanam tembakau di tahun ini. 

Pengalaman pahit tahun lalu masih membayangi benak mereka. Sehingga harus beralih menanam padi sebagai penyambung hidup. Namun, ternyata tahun ini matahari bersinar sepanjang masa tanam tembakau. 

‘’Kualitas daun tembakau tergantung pada sinar matahari,’’ terangnya.

Dari total lahan seluas 64 hektare, setidaknya bisa dipanen daun tembakau sebanyak 120 ton. Dari setiap hektarenya bisa dibawa pulang tembakau sebanyak 1,8 ton. 

Tahun lalu hanya sepertiganya yang dapat dinikmati petani lantaran gagal panen. Namun, dari total lahan bukanlah seluruhnya. 

Setidaknya terdapat 57 hektare yang dialihfungsikan untuk menanam padi. Padahal, kondisi tanah di Ngale sangat cocok untuk ditanami tembakau. 

‘’Ini bisa menjadi pengobat hati para petani tembakau tahun lalu,’’ pungkasnya.

(mn/bel/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia