Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Hukum & Kriminal

Masuk Bui Gara - Gara Pinjam Gitar

Kamis, 12 Oct 2017 15:30 | editor : Budhi Prasetya

pengeroyokan

Ilustrasi  (Febrian Satria/Radar Madiun )

MADIUN – Otak seseorang bakal abnormal jika sudah terpengaruh minuman keras. Bukannya berterima kasih, dua sekawan ini malah mengeroyok pemilik gitar yang sudah dipinjamnya. 

Galuh Surya, 29, warga Jalan Sarean Gg Manggar, Taman, Kota Madiun, belakangan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di persidangan. Nasib serupa dialami Puput Widya Saputra, teman sejalan Galuh, yang disidang dalam berkas perkara terpisah. 

Perkara pengeroyokan ini sebenarnya sudah terjadi sekitar setahun lalu. Berawal ketika Galuh dan Puput serta tiga temannya menggelar pesta minuman keras di depan salah satu depot makanan di Jalan Mangga, Kota Madiun. 

Ketika gelas isi arjo sudah berputar berkali-kali, di antara mereka ada yang nyeletuk agar meminjam gitar ke Gurit Bayu Putro, 29, pemilik kios tak jauh dari lokasi pesta miras itu. 

Malam kian larut, Bayu ingin meminta kembali gitarnya. Namun, Galuh dan Puput sengaja mengolor waktu. Bayu memilih mengalah hingga menagih gitarnya lagi sekitar pukul 22.00 Wib. 

Kali ini Galuh dan Puput meminta syarat agar Bayu menyanyi satu lagu. Permintaan itu lagi-lagi dipenuhi. Namun, desakan agar Bayu ikut mencicipi minuman keras mendapat penolakan keras. 

Ribut-ribut akhirnya terjadi. Puput yang mengawali dengan melancarkan pukulan ke arah wajah dan perut Bayu. Galuh lalu menghantamkan paving block ke kepala saat korban sempoyongan.

Akibat pengeroyokan itu, Bayu harus dirawat tujuh hari di RSUP dr Soedono. Pun, Galuh menghilang setelah kasusnya diusut polisi. 

Akibat perbuatan tersangka, Ngesty Handayani menuntut Galuh hukuman 18 bulan penjara. Tuntutan ini dinilai sepadan dengan luka yang dialami korban.

Apalagi, terdakwa sempat kabur sebelum akhirnya ditangkap polisi. Ngesty sudah mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan dalam mengajukan tuntutan.

‘’Terdakwa mengaku menyesali perbuatannya,’’ terang jaksa. 

Galuh memang sempat memohon keringanan hukuman di depan majelis hakim yang diketuai Wuryanti. Dia berdalih menjadi tulang punggung keluarga.

Namun, penyesalan terdakwa tetap tidak dapat menyembuhkan luka korbannya yang belakangan memilih merantau ke Lampung.

(mn/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia