Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features
Sosok di Balik Prestasi

Transitkan Ibu-Ibu Peserta Dasawisma, Pancing Buku di Poskamling

Kamis, 02 Nov 2017 19:20 | editor : Budhi Prasetya

Haruni Yansen menjadi sosok penting dibalik prestasi yang diraih perpustakaan Sekar Kenangan Kelurahan Winongo, Manguharjo, Kota Madiun 

Haruni Yansen menjadi sosok penting dibalik prestasi yang diraih perpustakaan Sekar Kenangan Kelurahan Winongo, Manguharjo, Kota Madiun  (Bagas Bimantara/Radar Madiun )

Sekelompok ibu-ibu di Kelurahan Winongo, Manguharjo, Kota Madiun, lihai mengelola perpustakaan hingga memenangi lomba tingkat provinsi. Ada peran besar Haruni Yansen menggawangi operasional perpustakaan itu. Semangatnya menggerakkan minat baca juga mengalahkan usianya yang sudah 65 tahun.

DILA RAHMATIKA, Madiun 

SAPU ijuk di tangan Haruni Yansen menyentuh nyaris seluruh sudut ruang perpustakaan seukuran 3x4 meter persegi itu. Serampung bersih-bersih, dia ganti merapikan ruas buku yang ditata berbanjar di rak. 

Perempuan 65 tahun itu tidak lupa  menata karpet dan dua kursi agar tidak bergeser dari tempatnya semula. Sedangkan loker, lemari, dan meja sulit beringsut. 

‘’Saya dulu guru,’’ kata Yansen mengenalkan diri. 

Ya, mantan pengajar di SD Santo Yusuf itu berperan sebagai pengelola Perpustakaan Sekar Kenanga. Ruang perpustakaan menyatu dengan kantor Kelurahan Winongo di Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. 

Bukan sembarang tempat baca beragam buku, Sekar Kenanga memenangi lomba tingkat provinsi. Juara harapan II. 

‘’Kami juara di kota (Madiun, Red),’’ terang Yansen. 

Perempuan satu ini benar-benar fokus mengurusi perpustakaan sejak awal 2015 lalu. Yansen sebenarnya sadar sudah tidak lagi muda. Namun, belum ada yang sudi menggantikan perannya. 

Pun, dia sudah puluhan tahun mengetuai kelompok kerja (pokja) II di kelurahannya yang salah satunya membidangi pendidikan. 

‘’Anggota pokja saya mayoritas guru aktif. Saya sudah purna sehingga lebih banyak punya waktu luang,’’ ungkapnya. 

Bukan pekerjaan gampang menata ulang perpustakaan. Yansen beserta timnya harus membuat cantik ruangan dengan menambah sarana-prasarana, menertibkan administrasi pinjam meminjam buku, hingga menambah koleksi bacaan. 

Bahkan, Yansen dan kawan-kawan  sudah sibuk sebulan sebelum lomba tingkat kota. Mereka sudah biasa lembur. 

‘’Kami juga studi banding ke perpustakaan di Oro-Oro Ombo yang pernah juara kota,’’ akunya.

Juri lomba tingkat Jatim sempat geleng-geleng saat mengetahui posisi uang kas Perpustakaan Sekar Kenanga yang hanya sebesar Rp 150 ribu selama 2014—2016. 

Muncul pertanyaan dari mana pengelola membiayai operasional. Jawabannya dari swadaya masyarakat. 

‘’Sebulan hanya Rp 12 ribu,’’ heran juri ditirukan Yansen. 

Dia mengaku memetik pelajaran berharga dari perpustakaan di Pacitan, Malang, dan Surabaya yang menjuarai lomba setahun lalu itu. 

Selain fasilitas sarana dan prasarana yang canggih, sokongan dana operasional tembus nominal puluhan juta. 

‘’Catatan pengunjung, daftar anggota, dan administrasi lainnya sudah pakai komputer,’’ jelas ibu empat anak itu.

Belum lagi urusan mendongkrak minat baca. Yansen sengaja mengajak ibu-ibu PKK rajin berkunjung ke perpustakaan. Peserta pertemuan dasawisma saban tanggal 10  tiap bulan harus transit ke perpustakaan lebih dulu. 

Mereka seolah dipaksa membaca buku sesukanya selama satu jam sebelum pertemuan dimulai pukul 16.00. 

‘’Pengunjung yang awal-awalnya paling banter hanya 10 sekarang sudah sudah mencapai 70 orang,’’ akunya.

Yansen tak kurang akal menyebar virus membaca. Dia bakal memindah sebagian buku ke poskamling. Ide muncul dari pengamatan Yansen ketika mendapati bapak-bapak kerap kongko di pos ronda itu. 

‘’Programnya dinamakan poskamling pintar,’’ bangganya. 

Dia menyebut minat baca buku juga tergerus era gadget. Dengan menggerakkan para orang tua membaca buku koleksi perpustakaan, diharapkan anak-anak mereka ikut tergerak. 

Yansen mencatat kalangan ibu rumah tangga menyukai buku tentang keterampilan dan kesehatan. 

‘’Kalau ingin melakukan aktivitas apa pun, sekarang mereka cari literaturnya dulu,’’ ungkap Yansen. 

Cikal bakal Perpustakaan Sekar Kenanga adalah taman bacaan masyarakat. Lantaran koleksi bacaan sudah ribuan, maka pemkot mendorongnya menjadi perpustakaan di tingkat kelurahan. 

Jam bukanya selama dua jam mulai pukul 09.00 setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Yansen yang selama ini setia bertugas jaga. Dia tengah mengidamkan perpustakaannya dilengkapi kipas angin untuk menangkal cuaca gerah. 

‘’Kalau AC kelewat mahal.’’ 

(mn/jpr/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia