Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Ngawi

Jebloskan Sebelas Sopir Bus ke Bui

Jumat, 03 Nov 2017 15:03 | editor : Budhi Prasetya

aksi sopir bus

Arus lalu lintas di wilayah Kabupaten Ngawi terbilang padat (Icuk Pramono/Radar Ngawi)

NGAWI - Dilihat dari data, angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Kabupaten Ngawi  tertinggi di eks Karesidenan Madiun. Pun, jumlah korban jiwa dan luka cukup membuat miris. 

Mulai bulan Januari hingga akhir Oktober 2017, korban jiwa tercatat 96 orang, korban luka berat sebanyak 89 orang dan luka ringan 867 orang. Sedangkan kerugian material (kermat) diperkirakan mencapai Rp 1,04 miliar. 

’’Memang tinggi, tapi lebih rendah dari tahun lalu,’’ ujar Kasatlantas Polres Ngawi AKP Rukimin kepada Jawa Pos Radar Ngawi.  

Dia menyebut, ada beragam analisa penyebab laka lantas yang terjadi di Ngawi. Salah satunya human error, seperti dalam pengaruh alkohol. 

Berbekal hasil dari olah tempat kerjadian perkara (TKP), 25 persen dari total kejadian laka lantas disebabkan pengendara menenggak minuman keras (miras). 

’’Aroma yang tercium dari mulut pengendara, bisa  disimpulkan pengendara mabuk atau tidak,’’ ujar Ruki. 

Selain pengaruh miras, , kecelakaan juga kerap disebabkan pelanggaran marka oleh pengendara. Selain itu, berkendara dengan kecepatan di luar batas. 

Kebanyakan kasus ini ditemukan di sepanjang jalur nasional. Di Ngawi, jalur nasional membentang dari Ngawi-Maospati, Ngawi-Mantingan, Ngawi-Karangjati. 

‘’Safety riding masih diabaikan para pengendara yang cenderung egois di jalanan,’’ imbuhnya. 

Ruki menambahkan jika Polres Ngawi sudah memetakan titik-titik rawan laka lantas. Misalnya, di kilometer (km) 5-3 Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Ngawi telah memakan empat korban jiwa dari 12 kejadian. 

Berikutnya di km 6–7 Desa Cangakan, Kasreman Ngawi, dua korban jiwa dari 11 kejadian. Beberapa titik di sepanjang Ngawi–Mantingan dan Ngawi–Karangjati itu memang dianggap paling rawan kecelakaan jika dilihat dari jumlah kejadian. 

’’Jalan sempit, minim rambu dan penerangan juga jadi faktor titik di rute ini dianggap black spot,’’ ujarnya. 

Ruki juga membeber tingginya laporan sopir bus cepat yang ugal-ugalan. Sebenarnya, kata dia, berbagai upaya sudah dilakukan aparat kepolisian. Termasuk memberikan training emosional dan spiritual yang digagas Polda Jawa Timur (Jatim) terhadap sopir bus cepat. 

Namun pengaruhnya terhadap perilaku sopir masih minim. Walhasil, masih banyak ditemukan sopir bus-bus yang ’balap liar’ di jalur nasional. 

Hak pengguna jalan lain terpaksa mengalah lantaran bus yang tetap menerobos marka jalan. Bahkan tak jarang, terjadi kecelakan di jalanan yang memakan korban. 

’’Cara paling efektif ya penindakan, tidak ada ampun bagi pengendara penyebab laka,’’ tegasnya. 

Setidaknya itu dibuktikan dari penanganan perkara yang dilakukan pihaknya. Ada belasan kasus yang telah ditangani Polres Ngawi. 

Sebanyak 11 sopir yang dianggap menjadi penyebab laka lantas jadi tersangka dan ditahan. Lantaran terbukti melanggar Undang-Undang 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 

’’Sudah 11 sopir yang ditahan karena terbukti melanggar UU 22/2009 itu,’’ tegasnya. 

Dia mengklaim, tindakan tegas tersebut mampu menekan jumlah laka lantas dan jumlah korban meninggal dunia. Korban jiwa akibat laka lantas turun 20 persen. 

’’Jumlah laka menurun tahun ini,’’ klaimnya.    

(mn/ian/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia