Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Magetan

10 Ribu Blangko E-KTP Diprediksi Habis Sebulan

Senin, 06 Nov 2017 16:30 | editor : Budhi Prasetya

blangko e-KTP kosong

Warga mengantre mendapatkan nomor pelayanan e-KTP di disdukcapil Kabupaten Magetan beberapa waktu lalu.  (Dok/Radar Magetan)

MAGETAN – Warga Magetan yang belum memiliki kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) kini bisa tersenyum. Blangko e-KTP yang sempat habis sejak empat bulan lalu sudah tersedia lagi. 

Sayang, jumlahnya tidak sesuai kebutuhan. Dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) hanya mendapatkan jatah sebanyak 10 ribu keping. Jumlah tersebut diprediksi bakal habis dalam jangka waktu sebulan. 

Kepala Disdukcapil Hermawan mengungkapkan, dari jumlah 10 ribu blangko yang diterima 27 Oktober lalu itu sudah tercetak sekitar 3.750. Pasalnya, rata-rata dalam sehari pihaknya mencetak 750 e-KTP. Ratusan e-KTP tersebut dihasilkan dari tiga mesin cetak. 

‘’Jadi, perkiraannya sekitar tiga minggu lagi blangkonya habis,’’ katanya, Jumat (3/11). 

Di Magetan saat ini terdapat 541.136 penduduk wajib e-KTP. Sementara 540.326 warga sudah melakukan perekaman. Dari proses yang selama ini berjalan, masih tersisa 21 ribu warga yang belum mengantongi e-KTP. 

Kendati demikian, pihaknya memprioritaskan jatah pencetakan blangko yang ada saat ini untuk warga yang baru kali pertama melakukan perekaman sesuai print ready record (PRR). Status mereka bisa warga pemula dan lanjut usia (lansia). 

‘’Jumlah PRR ada sekitar 15 ribu,’’ sebutnya. 

Menurut Hermawan, prioritas pencetakan PRR berbanding lurus dengan jatah blangko yang dikirim pemerintah pusat pada tahapan berikutnya. Jika PRR tidak dicetak lebih awal, jatah yang diterima pun sedikit. 

Dirinya menyebut permasalahan pencetakan e-KTP di disdukcapil bukan karena minimnya alat cetak. Melainkan terkait faktor keterbatasan blangko. 

‘’Sebelum ada permasalahan kekosongan blangko dua tahun lalu, proses pencetakan berjalan normal,’’ ungkapnya. 

Dua mesin cetak yang kala itu dimiliki, kata dia, sudah cukup untuk kebutuhan pelayanan. Sebab, dalam sehari maksimal ada 200 warga yang mencetak e-KTP. 

‘’Kondisi saat ini tidak normal. Banyaknya jumlah pengunjung yang datang ke disdukcapil karena akumulasi kekosongan itu,’’ urainya.

Permasalahan lainnya, lanjut dia, terjadi penunggakan data. Belakangan ini data perekaman warga di kantor kecamatan itu sulit masuk ke pemerintah pusat. Prosesnya menunggu hingga tiga bulan. 

Akibatnya, status perekaman warga tersebut belum bisa masuk ke tempatnya. Sebab, proses sinkronisasi ke pemerintah pusat itu untuk mengecek ganda tidaknya identitas mereka. 

‘’Kami tidak tahu apa penyebabnya. Itu sistem dan jaringan dari pusat,’’ pungkasnya. 

(mn/cor/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia