Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Magetan

Kerap Dilanda Bencana, BPBD Ajukan Renkon 

Rabu, 08 Nov 2017 16:23 | editor : Budhi Prasetya

Gumpalan awan hitam di langit disusul hujan kerap terjadi di wilayah Magetan sejak beberapa hari terakhir.

Gumpalan awan hitam di langit disusul hujan kerap terjadi di wilayah Magetan sejak beberapa hari terakhir. (Andi Chorniawan/Radar Magetan)

MAGETAN – Bisa dibilang, wilayah Magetan seperti magnet bagi bencana. Setidaknya seusai catatan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat, terjadi 120 kejadian tanah longsor dan puting beliung alias lesus dalam tiga tahun terakhir. 

Dua nyawa melayang menjadi korban serta puluhan infrastruktur bangunan rusak akibat bencana tersebut. Memasuki musim pancaroba ini kewaspadaan menjadi kunci untuk mereduksi dampak bencana alam. 

‘’Rencananya kami ajukan renkon (rencana kontijensi, Red) untuk tahun depan,’’ kata Kamari, kepala Pelaksana BPBD Magetan, Senin (6/11).

Kamari menyatakan, renkon sangat penting digunakan sebagai dasar kesiapsiagaan untuk menentukan rencana operasional (renops). Tujuannya agar proses penanggulangan bencana tidak berlangsung serampangan. 

Itu lantaran dengan adanya renkon para relawan dan warga yang tinggal di wilayah rawan bisa menentukan gambaran risiko maupun ancaman serta langkah penanganan bila terjadi bencana. 

‘’Warga bisa langsung bertindak tanpa harus menunggu BPBD atau pihak terkait lainnya,’’ ujarnya. 

Dia lantas menjelaskan pentingnya renkon dalam sebuah kasus. Kamari mencontohkan hujan mengguyur dengan intensitas tinggi di daerah rawan yang longsor. 

Saat itu penduduknya bisa langsung mengungsi di tempat pengungsian yang dirasa aman. Nah, untuk mencari lokasi titik aman itu lah dilakukan lewat proses renkon. 

‘’Warga bisa mengira-ngira kapan waktu yang tepat mengungsi dengan cara melihat seberapa lama dan tingginya curah hujan yang turun,’’ urainya kepada Jawa Pos Radar Magetan.  

Renkon, lanjut dia, sebetulnya dijadwalkan mulai dijalankan tahun ini. Namun karena keterbatasan anggaran, pelaksanaannya urung dilakukan. Salah satu alokasi dana itu untuk mendatangkan akademisi sebagai pendamping. 

‘’Kebutuhkan anggarannya sekitar Rp 50 juta–Rp 100 juta,’’ ungkapnya.

Kamari mengakui selama ini anggaran yang didapatkan setiap tahun masih jauh dari kata ideal. Meski begitu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. 

Alasannya, kebencanaan merupakan bidang yang kondisional dan tergantung alam. Ketika dialokasikan banyak dana untuk satu tahun anggaran, ternyata jumlah kejadian bencana selama tahun itu sedikit. 

‘’Begitu juga sebaliknya,’’ jelas Kamari. 

BPBD pun waswas dengan tren bencana alam. Data registrasi bencana dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren kenaikan. Tahun lalu tercatat 51 kejadian. 

Jumlah itu naik dua kali lipat dari 21 kejadian pada 2015. Sedangkan hingga Oktober tahun ini tercatat sudah ada 48 kejadian. 

Selama tiga tahun tersebut, sebanyak 75 kejadian didominasi bencana longsor. Bencana itu pun lebih banyak terjadi ketika musim pancaroba dan selama musim penghujan berlangsung. Yakni di tiga bulan awal tahun (Januari–Maret) dan akhir tahun (Oktober–Desember). 

‘’Pada bulan itu mulai dan berlangsungnya musim penghujan,’’ ucapnya. 

Tanda-tanda pancaroba pun sudah terlihat. Yakni, hujan mengguyur merata hampir di seluruh wilayah Magetan selama dua hari pada Sabtu (4/11) dan Minggu lalu (5/11). Juga puting beliung yang sempat menerjang Desa Tapak, Panekan, sepekan sebelumnya (28/10). 

Kamari menjelaskan, berdasar prakiraan BMKG Juanda Surabaya, saat ini memasuki peralihan musim dari kemarau ke hujan. Potensi turunnya hujan terjadi pada sore sampai malam. Meski begitu, sifat hujannya sporadis dan hanya berlangsung sebentar. 

Namun, yang perlu diwaspadai, biasanya turunnya hujan tersebut disertai dengan angin kencang. Dalam beberapa kejadian, ada pohon tumbang dan banyak batang pohon yang patah di jalan protokol kota. 

‘’Kami berharap warga mewaspadai pohon dan papan reklame yang kondisinya membahayakan,’’ ujarnya sembari menyebut fenomena itu bisa ditandai ketika siang terasa panas dan tiba tiba berubah dingin pada sore sampai malam.

Kamari menambahkan, BNPB juga sudah mengingatkan potensi terjadinya bencana alam dengan mengirimkan surat edaran. Dalam surat yang dikirimkan lewat email itu disebutkan bahwa puncak musim penghujan diperkirakan terjadi pada Desember hingga Februari 2018. 

‘’Selama tiga bulan itu kami diminta untuk waspada,’’ pungkasnya. 

(mn/cor/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia