Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Magetan

Tanah Gerak Ancam Warga di Delapan Kecamatan

Rabu, 08 Nov 2017 16:50 | editor : Budhi Prasetya

bencana magetan

Bangunan permukiman warga di Dusun Kopen, Desa Gonggang, Poncol, yang berada di lereng gunung. (Andi Chorniawan/Radar Magetan)

MAGETAN – Meski tidak tergolong deras, hujan yang mengguyur wilayah Dusun Kopen, Desa Gonggang, Poncol, Minggu lalu (5/11) membuat Painem waswas. Perempuan itu khawatir terjadi tanah longsor yang menerjang rumahnya seperti peristiwa Februari lalu. 

‘’Ketika hujan turun saat dalam rumah ya berusaha menghindari tembok yang terdekatan dengan plengsengan tanah,’’ katanya, Senin (6/11).  

Kekhawatiran Painem terjadinya longsor cukup beralasan. Berdasarkan rilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), ada empat kecamatan berpotensi terjadi tanah gerak klasifikasi tinggi-menengah dalam bulan ini.

Empat kecamatan dengan ancaman tanah gerak klasifikasi tinggi adalah Poncol, Panekan, Parang, dan Plaosan. Khusus Plaosan, berpotensi terjadi banjir bandang. 

Sedangkan empat kecamatan lain berpotensi terjadi gerakan tanah klasifikasi menengah saat hujan dengan intensitas tinggi. Yakni, Lembeyan, Magetan, Kawedanan, dan Sukomoro. Terutama, kawasan berbatasan lembah sungai, tebing, tebing jalan, atau lereng. 

Sementara, data Indeks Rawan Bencana Kota/Kabupaten Indonesia (IRBI) yang dikeluarkan BNPB pada 2013 lalu, untuk multi-ancaman skala nasional, Magetan berada di urutan 279 dari total 496 kota/kabupaten. 

Potensi ancamannya tergolong tinggi dengan skor 153. Jika diperinci, potensi bencana longsor berada di rangking 109 kategori tinggi dan cuaca ekstrem nomor 208 kategori sedang. 

‘’Ya memang seperti itu untuk kondisi kebencanaan Magetan,’’ kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Fery Yoga Saputra saat dimintai konfirmasi terkait data tersebut. 

Fery menyebutkan, pihaknya telah memetakan ada lima kecamatan masuk zona merah atau rawan longsor. Yakni, Poncol, Plaosan, Panekan, Parang, dan Sidorejo. 

Terdapat 13.410 kepala keluarga (KK) dari 18 desa yang tinggal di kawasan zona merah tersebut. Jumlah belasan ribu itu belum termasuk KK dari wilayah Parang dan Sidorejo yang belum tercatat. Tertinggi Poncol dengan 8.116 KK dari delapan desa. 

‘’Karakteristik rawannya sama yakni permasalahan geografis,’’ ujarnya. 

Dia menjelaskan, mayoritas rumah warga berada di lereng pegunungan dengan kondisi tanah gembur. Saat pembangunan, warga tidak mempertimbangkan pola pembuangan air dan aspek sanitasinya. Padahal, tanah gembur sangat rentan terkikis bila terus menerus terkena hujan. 

Fery menyebut, belum ada satu pun warga yang meminta direlokasi. Pun sebetulnya mereka menyadari ancaman bisa datang sewaktu-waktu. Terutama jika sudah masuk dalam musim penghujan seperti sekarang. 

‘’Karena sudah terlanjur lekat dengan budaya lokal,’’ ucapnya. 

BPBD mengklaim telah berupaya menyosialisasikan perelokasian. Namun, upaya itu belum mampu menarik minat warga. Mereka bersikukuh enggan pindah. 

Menyikapi kondisi tersebut, pihaknya sekadar mengimbau warga setempat agar waspada. Imbauan juga diberikan ke kepala desa dan camat untuk melakukan pemantauan. 

‘’Kami minta diberikan laporan dan informasi perkembangan dari setiap hal yang berkaitan kebencanaan,’’ tandasnya. 

(mn/cor/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia