Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features

Kreasi Nail Art Deas Devita Curi Perhatian Make-up Artist Ibu Kota

Jumat, 23 Mar 2018 20:55 | editor : Budhi Prasetya

nail art madiun

R.Bagus Rahadi/Radar Madiun (ARTISTIK: Deas Devita menunjukkan kuku palsu berhias bubuk akrilik berbentuk bunga kreasinya.)

Tampil beda dengan kuku palsu sedang menjangkiti sebagian perempuan masa kini. Tren itu ditangkap jeli oleh Deas Devita dengan menekuni nail art. Kini, dalam sepekan dia mampu menjual lima hingga enam set kuku palsu yang sudah dihias lukisan akrilik dan sejumlah aksesori. 

CHOIRUN NAFIA, Madiun

KUAS kecil di sela jemari tangan kanan Deas Devita seolah terlihat lincah menari-nari  saat menghias kuku palsu di tangan kirinya. Ekpresi wajahnya terlihat serius selama gadis itu mencelupkan kuas ke bubuk akrilik dan menggambar motif di permukaan kuku. 

Beberapa menit berselang, motif bunga dengan lima kelopak kecil mulai terlihat. Setelah bubuk akrilik kering, gambar bunga itu pun semakin menampakkan pesonanya. 

‘’Butuh waktu lama karena saya mengutamakan detail, apalagi medianya (kuku, Red) kecil,’’ ujar Devita.

Belum genap setahun Devita menggeluti usaha nail art. Awalnya, dia fokus menjual jasa menggambar henna bagi perempuan untuk acara pernikahan atau pertunangan. 

Nah, dia akhirnya melirik nail art setelah seorang pelanggan henna-nya meunjukkan contoh kuku palsu berhiaskan motif tertentu. 

‘’Akhirnya saya berniat mencoba bikin dan mulai cari bahannya,’’ kata perempuan 25 tahun ini. 

Kala itu Devita belum menggunakan bahan bubuk akrilik. Melainkan henna putih untuk menggambar motif di atas kuku yang sudah dikuteks. Namun, hasilnya jauh dari harapan. 

‘’Saya jadi penasaran dan terus mencari bahan yang pas sampai akhirnya ketemu akrilik,’’ ucap warga Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, itu.

Bubuk akrilik dibelinya secara online. Namun, setelah mendapatkannya, Devita kebingungan saat hendak mengaplikasikannya di kuku palsu. Lalu, dia membuka YouTube dan mencari tutorialnya. 

‘’Saya tidak pernah pakai kuteks. Percobaan pertama dengan kuku palsu pula,’’ ungkapnya.

Setidaknya butuh waktu hingga tiga bulan bagi Devita hingga mampu mengaplikasikan bubuk akrilik ke kuku palsu dengan baik. Pun sejak itu dia mulai pede (percaya diri) meng-upload hasil karyanya di akun Instagram miliknya. 

Sejak itu pula pesanan demi pesanan masuk. Kini, satu minggu setidaknya lima hingga enam set kuku palsu berhias akrilik diterimanya. 

Dalam mengaplikasikan bubuk akrilik itu, tahapan paling sulit adalah saat mencampurkannya dengan air. Airnya bukan air sembarangan, melainkan monomer. Kuas terlebih dahulu dicelupkan dalam cairan tersebut, baru dimasukkan ke bubuk akrilik. 

‘’Kuasnya tidak boleh terlalu basah maupun terlalu kering. Juga harus lembut,’’ bebernya.

Satu set kuku palsu berjumlah 10 buah diselesaikannya selama satu sampai dua jam. Setelah melukisnya dengan bubuk akrilik, kuku itu biasanya ditambahi hiasan seperti glitter dan manik-manik. 

‘’Hiasan dan desainnya tergantung pemesan,’’ jelasnya.

Dalam menerima pesanan, Devita pun tak langsung menggarapnya. Kuku pelanggan itu harus diukur terlebih dahulu. Jika pelanggan bersedia datang ke gerainya, dia hanya perlu mengukur kukunya dengan penggaris. 

Namun jika pelanggan ada di luar kota, harus mengirimkan foto kukunya. ‘’Soalnya, ukuran kuku orang itu berbeda-beda,’’ katanya.

Kuku palsunya itu tak hanya laku di wilayah eks Karesidenan Madiun, tapi hingga luar daerah. Bahkan, make-up artist ibu kota Vizzily Vizzya pun pernah memesan kuku palsu kreasinya. 

Selain berbeda dengan kuku palsu lainnya, harganya terbilang terjangkau. Satu setnya hanya Rp 80 ribu-Rp 200 ribu. 

‘’Cara memakainya juga mudah. Hanya perlu dilem,’’ sebutnya. ***

(mn/bel/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia