Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features

Lupakan Batok Kelapa, Alek Danung Tamtomo Lirik Kerajinan Paralon

Jumat, 23 Mar 2018 22:00 | editor : Budhi Prasetya

EKSOTIK: Danung dan kerajinan kap lampu hasil kreasinya.

EKSOTIK: Danung dan kerajinan kap lampu hasil kreasinya. (Loditya Fernandez/Radar Ngawi)

Tangan kreatif Alek Danung Tamtomo mampu menyulap pipa paralon menjadi aneka kerajinan bernilai jual tinggi. Dalam satu bulan, puluhan item produk seperti tatakan gelas, tempat tisu, dan kap lampu berpindah tangan ke buyer dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. 

LODITYA FERNANDEZ, Ngawi 

KAP lampu di tangan Alek Danung Tamtomo itu tampak eksotik. Bentuknya kotak berwarna kecokelatan dengan tekstur unik. Pada bagian tengah dihiasi kaligrafi kalimat basmalah berbentuk perahu. 

Sedangkan di kanan terdapat penunjuk waktu berukuran sedang. Sementara di bagian kiri terdapat foto seorang bocah. 

Setelah kabel dicolokkan ke stopkontak, kap lampu itu mengeluarkan sinar temaram dengan beberapa siluet warna putih dan kemerahan. 

‘’Kalau dilihat sepintas dikira terbuat dari kayu, padahal ini bahannya pipa paralon,’’ kata Danung sembari memegang sebuah lampu hias yang masih dalam proses finishing.

Sebelum menekuni lampu hias paralon, Danung sempat berniat menggeluti kerajinan berbahan batok kelapa. Namun, kala itu urung terwujud lantaran terbentur dana. Dia pun memilih bekerja sebagai TKI di Taiwan untuk mengumpulkan modal. 

‘’Di sana kerja di pabrik perakitan sepeda motor,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, keinginannya memulai usaha kerajinan batok akhirnya terlupakan. Berawal dari kebiasaan browsing di dunia maya saat rehat atau sepulang kerja. 

‘’Pilihan saya jatuh ke kerajinan paralon karena bahan bakunya lebih mudah didapat ketimbang batok kelapa,’’ tuturnya.

Sejumlah peralatan pun sengaja disiapkan saat masih bekerja di Taiwan. Nah, ketika pulang kampung setelah kontrak kerjanya berakhir, Danung langsung memulai usahanya. 

Kala itu dia merogoh kocek sekitar Rp 2 juta untuk membeli paralon dan sejumlah peranti yang belum sempat dibeli. 

‘’Mulai alat bakar yang biasa untuk pasang scotlight, tuner, dan alat lainnya, ’’ ungkap Danung. 

Awalnya usaha tersebut tidak berjalan mulus. Paralon dengan kualitas seadanya membuat hasil kreasinya jauh dari harapan. Selain warnanya kurang cerah, beberapa bagian penyok. Namun, setelah melalui beberapa eksperimen, kendala tersebut mampu diatasi. 

Satu demi satu produk kerajinan pun mampu dibuatnya. Mulai tatakan gelas, tempat tisu, hingga kap lampu. 

‘’Ada yang minta diberi hiasan kaligrafi, ada juga yang dipasangi foto sampai lukisan,’’ beber suami Khairul Hidayati ini.

Danung memasang banderol untuk kerajinan kreasinya mulai Rp 35 ribu hingga Rp 400 ribu. Produk-produk tersebut dipasarkan secara online. Dalam sebulan, sedikitnya 30 order masuk kepadanya. Dari jumlah itu, dia mampu meraup omzet sekitar Rp 3 juta. 

Pembelinya dari berbagai daerah di tanah air mulai eks Karesidenan Madiun, Gresik, Blitar, Indramayu, Bekasi, Jakarta, hingga Kalimantan dan Sulawesi. Bahkan, produknya sudah merambah pasar Hongkong dan Taiwan. 

‘’Tapi lewat distributor di Magetan,’’ sebutnya. ***

(mn/odi/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia