Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Kota Madiun

Gagas Wisata Sejarah, Jadikan Fakta Sebagai Panglima 

Minggu, 25 Mar 2018 10:24 | editor : Budhi Prasetya

sejarah penjara tua madiun

BERLIAN SEJARAH: Jejak sejarah di Rumah Tahanan Militer Madiun layak digali untuk disajikan sebagai wadah edukasi masyarakat  (R.Bagus Rahadi/Radar Madiun)

MADIUN – Tingginya semangat Dinas kebudayaan pariwisata dan olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun menggali potensi wisata sejarah boleh diacungi jempol. 

Namun Wali Kota Madiun mengingatkan agar upaya terebut harus diimbangi penggalian fakta secara menyeluruh. 

Dengan menjadikan fakta sebagai panglima, Wali Kota Sugeng Rismiyanto (SR) meminta disbudparpora tak grusa-grusu menyematkan objek wisata sejarah ke sejumlah bangunan kuno yang ada. 

Penggalian fakta harus dilakukan sebelum menggali fisik berbagai bangunan berusia ratusan tahun itu. ‘’Harus ketemu dulu fakta sejarahnya, secara lengkap,’’ tegas SR, Kamis (21/3).

Fakta, kata SR, menjadi fondasi penting dalam menciptakan sebuah destinasi sejarah. Semakin lengkap fakta suatu tempat bersejarah, semakin tinggi pula nilai tempat tersebut. Jika fakta yang tersaji masih simpang siur, sulit mendatangkan gerbong wisatawan. 

‘’Kalau sudah benar apa fungsi dan lain-lainnya, baru lakukan langkah-langkah. Informasi itu penting untuk pariwisata sejarah,’’ imbaunya.

Terkait bangunan tua Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun yang berdiri sejak 1917, SR mengklaim sudah berkoordinasi dengan Korem 081/DSJ. Juga, rencana penggalian potensi wisata sejarah di berbagai tempat lainnya seperti Bakorwil Madiun. 

Namun, upaya pengusulan 19 bangunan tua menjadi situs cagar budaya tak berhenti sebatas status. Disbudparpora harus menggali fakta sejarah dibalik bangunan-bangunan itu. 

‘’Saya sudah meminta disbudparpora menggali kebenarannya,’’ pintanya.

SR pun sadar bila penggalian fakta sejarah itu mustahil dilakukan disbudparpora sendirian. Dia pun meminta menggandeng konsultan sehingga memerlukan waktu yang tidak singkat. 

‘’Tak bisa setahun langsung selesai semuanya,’’ tegasnya.

SR juga sempat menyinggung terowongan yang diduga menghubungkan sejumlah bangunan tua di zaman kolonial Belanda. Mulai dari gemeentehuis (balai kota), bakorwil yang dulunya rumah dinas residen, hingga Makodim 0803/Madiun yang sempat digunakan Societeit Constantia Madioen —sebuah kelab malam di era penjajah. 

‘’Tapi semuanya harus diperjelas lagi. Biar tak memunculkan banyak interpretasi,’’ jelasnya.

Kepala Disbudparpora Agus Purwowidagdo juga mengaku tak bisa jalan sendiri. Pihaknya tetap butuh pengkajian konsultan atas berbagai produk yang telah dihasilkan. 

Dalam mengungkap pakaian adat misalnya. Mereka menggandeng akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam meneliti busana para priyayi di awal-awal berdirinya gemeentehuis. 

‘’Pengungkapan dokumen sejarahnya bahkan sampai ke Belanda. Mengungkap sejarah itu memang butuh effort (upaya) luar biasa,’’ tukasnya. 

(mn/naz/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia