Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Hukum & Kriminal

Manfaatkan Pohon Pisang, Pencuri Berhasil Bobol Toserba

Jumat, 06 Apr 2018 05:00 | editor : Budhi Prasetya

RUGI JUTAAN: Toko Sumber Murah yang dibobol maling dilingkari garis polisi.

RUGI JUTAAN: Toko Sumber Murah yang dibobol maling dilingkari garis polisi. (Andi chorniawan/Radar Magetan)

MAGETAN - Meski tergolong lihai mematikan kamera CCTV sebelum beraksi, nyatanya pelaku pencurian toko serba ada (toserba) Sumber Murah Kamis kemarin (5/4) masih memakai cara lama. 

Kapolsek Magetan Kota AKP Munir mengungkapkan jika pelaku pencurian lebih dari satu orang. Mereka masuk lewat bagian belakang toko yang berbatasan dengan area persawahan. 

Hasil gelar olah tempat kejadian perkara (TKP) didapati ada bagian atap yang rusak. Mereka (pelaku,Red)  ditengarai masuk lewat lubang itu. Kemudian merangkak di plafon. Mereka menuju ke lokasi tersebut menggunakan pijakan pohon pisang. 

‘’Tapi modus operandinya masih kami dalami,’’ kata Munir kepada Radar Magetan. 

Munir mengatakan, pihaknya baru sebatas mengamankan kamera CCTV untuk diperiksa lebih lanjut.  Apalagi ketika proses pencurian itu kamera pengawas alias CCTV dalam kondisi sudah mati. 

Pantauan di lokasi, terlihat kerusakan pada atap bangunan belakang sisi timur. Sejumlah genting hilang hingga menyisakan lubang berdiameter sekitar satu meter. 

Meski begitu, usuk kayu atap tersebut terlihat masih utuh. Tidak jauh dari lokasi itu tampak sebuah pohon pisang yang miring dengan tiga batangnya patah. 

Apalagi ketika proses pencurian itu dalam kondisi sudah mati. Sedangkan alat lain yang kemungkinan dipakai pelaku untuk merusak atap masih dalam pencarian. ‘’Masih lidik dengan unit Sat Reskrim Polres Magetan,’’ tandasnya.

Fetria Veronica, pemilik toko, menerangkan jika pelaku berhasil mengambil sejumlah uang tunai dari dalam laci toko. Dirinya sempat menyebut angka kisaran Rp 7 juta rupiah. 

Pun, uang kas yang belum dihitung rekapannya, kata dia, juga hilang. Selain itu, anak buahnya  mendapati pakaian di sisi timur sudah acak-acakan dan memperkirakan sebagian hilang. 

‘’Kerugian pasti perlu dihitung,’’ ujar warga Desa Baleasri, Ngariboyo, ini. 

Fetria menambahkan, tokonya memiliki 12 karyawan. Mereka dibagi menjadi dua sif, pagi dan siang. Toko tutup pukul 21.00 WIb. 

Malamnya ada karyawan yang piket untuk memonitor. Namun, tidak ada yang menunggu di dalam. ‘’Hanya berkeliling saja sesekali, tidak sampai ada yang berjaga,’’ pungkasnya.

(mn/jpr/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia