Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features
Mengapa Memilih Gus Ipul-Mbak Puti?(Bagian-1)

Ikuti Dawuh Kiai hingga Isyarat Hasil Istikharah

Jumat, 06 Apr 2018 04:00 | editor : Wawan Isdarwanto

DUKUNG ULAMA: Puti Guntur Soekarno didukung Imam Utomo, mantan gubernur Jatim, dan para ulama dalam Pilgub 2018.

DUKUNG ULAMA: Puti Guntur Soekarno didukung Imam Utomo, mantan gubernur Jatim, dan para ulama dalam Pilgub 2018. (Istimewa)

Banyak orang memilih pasangan calon (paslon) Gubernur-Wakil Gubernur Jatim Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno karena beberapa alasan penting. Ada yang bersandar dawuh ulama atau kiai. Ada pula melalui salat Istikharah untuk mendapat petunjuk kebenaran. 

----------------------------------------------------

‘’SAYA ini santrinya para ulama. Kalau para ulama memutuskan Gus Ipul, saya ikut. Saya dukung,’’ kata Mayjen TNI (Pur) H Imam Utomo, gubernur Jawa Timur 1998-2008, di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Selasa 6 Februari 2018. 

Itu disampaikan di depan ribuan peserta acara Silaturahim Masyayikh dan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Jawa Timur yang terdiri para kiai, bu nyai, dan ustad.

Imam Utomo adalah tokoh penting Jawa Timur. Dia pernah menjabat Panglima Kodam Brawijaya. Sejak berhenti dari gubernur, Imam jarang muncul di depan publik. Tapi, siang itu, dia hadir di depan para ulama. 

‘’Gus Ipul sudah matang belajar Jawa Timur. Dua kali wakil gubernur. Sudah waktunya menjadi gubernur,’’ katanya. 

‘’Gus Ipul itu sabar luar biasa. Kalau tidak tahan, Gus Ipul datang ke pondok. Menangis di depan kiai,’’ lanjutnya. Imam memberi semangat pada Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang duduk di dekatnya. Sementara, di tempat duduk perempuan, hadir Puti Guntur Soekarno (Mbak Puti).

Imam juga menilai Mbak Puti, cucu Bung Karno, figur yang tepat mendampingi Gus Ipul. Dia rajin mengikuti berita di berbagai media massa tentang aktifnya Mbak Puti menjelajahi Jawa Timur. ‘’Itu pendekatan yang bagus,’’ pujinya. 

Perjodohan paslon nomor 2 itu juga karena pertimbangan para ulama. Di Lirboyo, Kediri, juru bicara para ulama KH Anwar Iskandar menyampaikan keputusan para kiai mencalon Gus Ipul sudah bulat. 

‘’Gus Ipul asli NU. Keluarga NU. Pandai mengaji. Juga cicit pendiri NU (Almarhum KH Bisri Syansuri). Kita ingin Jawa Timur dipimpin gubernur dari NU,’’ kata Anwar.

Karena diputuskan untuk kerja sama dengan PDIP, kata Anwar, posisi cawagub diserahkan pada Ketua Umum DPP PDIP Hj Megawati Soekarnoputri. ‘’Bu Mega kemudian menugaskan Mbak Puti, cucu Bung Karno, pendiri negara ini,’’ ungkap Anwar.

Seperti keinginan Megawati, para ulama juga sepakat Pilgub Jatim jadi momentum memperkuat kebersamaan kaum nahdliyin dan nasionalis. ‘’Karena itu, Ibu Megawati sejak awal setuju Gus Ipul sebagai cagub. PDIP memasangkan dengan Mbak Puti, kader kami,’’ kata Ahmad Basarah, wakil sekretaris Jenderal DPP PDIP.

Bagi masyarakat Jawa Timur yang punya hubungan dekat dengan kultur NU, pernyataan atau dawuh para kiai menjadi obor penerang dalam mengambil pilihan. ‘’Ikut kiai sampai mati. Ikut kiai dunia-akhirat.’’ Suara itu dicetuskan para santri di berbagai pondok pesantren.

Popularitas Gus Ipul juga luar bisa di kalangan pesantren dan masyarakat. Fakta ini didapati Mbak Puti setiap kali bersilaturahmi ke pondok pesantren. ‘’Apakah para santri tahu Gus Ipul?’’ tanyanya di Pondok Pesantren Al Barokah Bondowoso. ‘’Tahuuuuu,’’ jawab santri dan santriwati serempak.

Saat Mbak Puti ke Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, KH Huda Djazuli pun menyampaikan pada ribuan santri dan santriwatinya. ‘’Tolong sampaikan pada orang tua kalian, pilihan para kiai adalah Gus Ipul-Mbak Puti.’’ 

KH Qusyairi Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Huda, Sumenep, agak beda. Dia sebelumnya mendukung paslon Khofifah-Emil. Tapi sempat galau karena Gus Ipul dan Khofifah sama-sama kader NU. Jalan spiritual pun dia tempuh untuk mendapat petunjuk suci. Beberapa kali dia salat Istikharah. 

Qusyairi pun mendapat isyarat melalui mimpi. Di sebuah gunung, dia bertemu sosok yang menunggangi kuda. Sosok itu adalah Gus Ipul bersama banyak orang di belakangnya. ‘’Saya pikir saat itu hanya kebetulan. Saya lalu Istikharah lagi,’’ ujarnya.

Di mimpi berikutnya, ayahnya yang telah wafat KH Muhammad Zaini Muntaha memberikan sepucuk kertas. Lalu memintanya pulang dan membaca isi kertas itu. Sesampainya di rumah, dia membuka kertas tersebut. ‘’Ternyata gambarnya Gus Ipul,’’ ungkap Qusyairi yang sejak itu mantap memilih Gus Ipul.

Nyai Hj Makkiyah As’ad, putri sulung almarhum KH As’ad Syamsul Arifin, ulama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, memilih Gus Ipul karena pesan ayahnya sebelum meninggal 4 Agustus 1990. Saat dikunjungi Puti Guntur beberapa waktu lalu, dia bercerita mendiang ayahnya ingin Jawa Timur dipimpin gubernur dari NU. ‘’Saya bangga, Gus Ipul malah didampingi Mbak Puti, cucu Bung Karno, pejuang dan pendiri bangsa,” kata Makkiyah. 

Dia menyebut Gus Ipul adalah cicit KH Bisri Syansuri, salah seorang pendiri NU. Pun ulama besar, serta perjuangannya panjang untuk umat dan bangsa Indonesia. Juga pernah jadi Rais Aam PBNU. Atas sikap keluarga itu, adik iparnya Nyai Djuwairiyah Fawaid (istri almarhum KH Fawaid As’ad) berjuang menyatukan suara umat di tapal kuda untuk mendukung Gus Ipul-Mbak Puti. ‘’Insya Allah menang,’’ kata Djuwairiyah. ****

(mn/jpr/isd/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia