Rabu, 21 Nov 2018
radarmadiun
 
icon featured
Magetan

Pangkalan Udara Maospati Pernah Hancur Tahun 1942

Sabtu, 07 Apr 2018 02:00 | editor : Wawan Isdarwanto

Lanud Iswahjudi Maospati

ALUTSISTA: Salah satu pesawat F-16 yang bermarkas di Lanud Iswahjudi saat terbang diatas langit wilayah Magetan beberapa waktu lalu.  (Bagas Bimantara/Radar Madiun )

MAGETAN - Masa aktif Pangkalan Udara Maospati di masa penjajahan Belanda hanya berusia  dua tahun. Pangkalan tempur udara yang kini bernama Lanud Iswahjudi itu pernah dihancurkan Jepang pada tahun 1942. 

‘’Belanda mulai membangunnya pada  1939 dan selesai 1940,’’ tutur Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Iswahjudi Mayor Sus Hamdi Londong Allo, Jumat (6/4).

Londong mengungkapkan, sejatinya Belanda membangun pangkalan udara itu untuk dipersiapkan menghadapi Jepang menjelang bergulirnya perang Pasifik. Kala itu Nippon berniat merebut negara-negara di Asia termasuk Indonesia. 

Belanda juga ingin menjadikan pangkalan sebagai basis kekuatan militer sekutu di Pulau Jawa. Lokasi Kecamatan Maospati dinilai strategis lantaran berdekatan dengan markas militernya di Ngawi. 

‘’Itu dinilai sebagai keuntungan dalam hal meningkatkan pertahanan dan keamanan,’’ ujarnya. 

Proyek pangkalan itu dikerjakan secara bertahap, diawali dengan membangun landasan pesawat atau airway sepanjang 1.586 meter dan lebar 53 meter. Penduduk di sejumlah desa harus dipindah ke desa sekitarnya karena terdampak pembangunan tersebut. 

Warga yang terkena imbas pembangunan airway tersebut di antaranya berasal dari Desa Pandean, Mranggen, Setren, dan Kleco. 

‘’Setelah selesai, dilanjut membangun tiga buah hanggar,’’ kata Londong sembari menyebut ada pembangunan lanjutan untuk tempat perawatan pesawat, gedung perkantoran, asrama militer, dan gudang. 

Dia menyebut ada tiga hanggar yang diisi tiga skadron di pangkalan udara yang dikomandani Kapten H.J. Van de Pool itu. 

Perinciannya, dua dinamai pemburu, yaitu Skadron Falcon di hanggar masuk Desa Setren dan Brooster di hanggar masuk Kleco. Satu hanggar lainnya adalah Skadron Pendidikan Penerbang di Ngunjung. 

‘’Tapi, ketiga hanggar tersebut hancur diserang Jepang awal 1942. Sekarang sudah tidak ada sisanya lagi,’’ paparnya. 

Londong menjelaskan, pangkalan udara yang dibangun Belanda itu tergolong kecil. Pasca kemerdekaan, operasional pangkalan tersebut sebatas untuk latihan penerbangan dan menerima kedatangan pesawat dari pangkalan lain. 

Kondisi airway pun sudah tidak baik dan ukurannya tidak memenuhi persyaratan pendaratan pesawat jet. ‘’Belum sempat dikembangkan ketika dipakai Belanda,’’ ujarnya. 

Pada September 1957, kata dia, landasan pacu dirombak. Panjang ditambah menjadi 2.550 meter dan lebar 60 meter. Dibangun pula drainase sepanjang 12 kilometer serta tanggul di sekitar landasan untuk menghindari banjir. Butuh waktu tiga tahun menyelesaikannya. 

Landasan mulai bisa digunakan untuk pendaratan pesawat jet pada 1961. Masih di tahun yang sama, turun Keputusan Menteri/Kepala Staf AU nomor 045 tentang pembentukan wing operasional 003 di Pangkalan Udara Maospati. 

‘’Pangkalan dipandang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai basis kesatuan udara pesawat jet,’’ pungkasnya. (cor/c1/isd) 

(mn/jpr/isd/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia