alexametrics
23.7 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Pemulihan Ekonomi Global, Pemerintah Kolaborasi dengan World Bank

JAKARTA – Salah satu isu prioritas yang akan dibahas oleh Health Working Group Presidensi G20 Indonesia yakni membangun ketahanan sistem kesehatan dunia (building global health system resilience). Pembahasan yang dilakukan terkait dengan kontribusi G20 terhadap mekanisme global pooling resources, termasuk teknikal, finansial, dan keahlian yang dapat diakses oleh seluruh negara. Terutama low income countries pada pra, selama, dan pasca krisis kesehatan.

Hal tersebut merupakan salah satu materi yang dibahas saat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima audiensi Vice President of the World Bank for East Asia and Pacific Manuela Manuela V. Ferro di Jakarta, Kamis (10/2).

Audiensi dari World Bank tersebut adalah untuk berdiskusi tentang prioritas program Kemenko Perekonomian pada masa pandemi Covid-19 dan dukungan World Bank terhadap program Kemenko Perekonomian dalam pemulihan ekonomi nasional.

Dalam audiensi, World Bank menyampaikan bahwa koordinasi antara pembuat kebijakan kesehatan dan keuangan, lembaga keuangan keuangan multilateral, dan lembaga kesehatan global perlu ditingkatkan. Pendekatan multilateral untuk pembiayaan imunisasi ekstensif sebagai global public goods berdasarkan kolaborasi multi sektor domestik dan internasional juga perlu diperkuat. Oleh karena itu diperlukan pembiayaan Pandemic PPR (prevention, preparedness, and response) yang lebih memadai, berkelanjutan, dan terkoordinasi.

Pada kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan berbagai perkembangan terkini mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia dan perkembangan program pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional. Seperti PPN dan PPnBM DTP untuk beberapa tipe kendaraan bermotor roda empat, program KUR, dan program bantuan tunai PKL, warung, serta nelayan.

Selanjutnya juga dilakukan pembahasan mengenai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang pencapaian target kemiskinan ekstrem 0 persen di tahun 2024 dan percepatan penanganan kemiskinan melalui peningkatan efektifitas program dan pembangunan data yang terintegrasi.

Untuk mencapai target kemiskinan ekstrem 0 persen, diperlukan kebijakan afirmatif yang tidak hanya menyasar kelompok masyarakat miskin ekstrem, tetapi juga kelompok miskin dan rentan. World Bank yang mempunyai unit khusus untuk penanganan kemiskinan ekstrem dunia, menyampaikan akan membantu Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan arahan Presiden Jokowi.

Baca Juga :  Akhir Kompetisi Legislasi, Dewan-Pemkab Sepakat Jaga Sinergitas

Menko Perekonomian juga menyampaikan kondisi logistik nasional saat ini yang  merupakan salah satu unsur yang sangat menentukan perekonomian di Indonesia, khususnya di sektor ekspor dan impor. Pemerintah terus berupaya menghilangkan hambatan dan mengurangi biaya arus barang dalam perdagangan internasional dan domestik.

Salah satunya melalui National Logistics Ecosystem (NLE) yaitu sebuah platform yang menghubungkan penawaran dan permintaan logistik untuk meningkatkan kolaborasi dan sinergi antar Kementerian/Lembaga (K/L).

Diharapkan dengan NLE ini dapat dilakukan upaya perbaikan, penyederhanaan proses bisnis, penataan infrastruktur logistik, dan harmonisasi kebijakan logistik nasional. World Bank akan berkolaborasi dengan kemenko perekonomian dan kementerian/lembaga (K/L) terkait untuk menyusun kajian serta policy untuk mempercepat proses logistik di Indonesia.

Selain itu, Menko Airlangga juga mendiskusikan perihal transisi energi melalui perdagangan karbon dan energy transition mechanism (ETM) yang adil dan terjangkau tanpa memberi beban yang terlalu berat bagi masyarakat, industri, dan keuangan negara. Untuk hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dengan meluncurkan ETM dari batu bara ke energi terbarukan.

Dalam skema ETM ini, ADB dan pemerintah bersama-sama mengadakan studi kelayakan secara menyeluruh yang berfokus pada model bisnis yang optimal dengan memanfaatkan modal komersial, pemerintah donor, dan filantropis untuk peralihan menuju dekarbonisasi. Menko Airlangga berharap ada model transisi energi yang dapat dijadikan percontohan yang ke depannya dapat direplika untuk menarik investor agar dapat turut berpartisipasi dalam skema transisi energi ini.

Terkait dengan G20 Joint Finance Health Task Force, task force yang dipimpin bersama oleh Indonesia dan Italia dan dibantu sekretariat di WHO serta didukung World Bank. Karena itu, World Bank diharapkan dapat menyusun kebijakan tentang bagaimana mengembangkan mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan untuk kesehatan global. (don/adv)

JAKARTA – Salah satu isu prioritas yang akan dibahas oleh Health Working Group Presidensi G20 Indonesia yakni membangun ketahanan sistem kesehatan dunia (building global health system resilience). Pembahasan yang dilakukan terkait dengan kontribusi G20 terhadap mekanisme global pooling resources, termasuk teknikal, finansial, dan keahlian yang dapat diakses oleh seluruh negara. Terutama low income countries pada pra, selama, dan pasca krisis kesehatan.

Hal tersebut merupakan salah satu materi yang dibahas saat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima audiensi Vice President of the World Bank for East Asia and Pacific Manuela Manuela V. Ferro di Jakarta, Kamis (10/2).

Audiensi dari World Bank tersebut adalah untuk berdiskusi tentang prioritas program Kemenko Perekonomian pada masa pandemi Covid-19 dan dukungan World Bank terhadap program Kemenko Perekonomian dalam pemulihan ekonomi nasional.

Dalam audiensi, World Bank menyampaikan bahwa koordinasi antara pembuat kebijakan kesehatan dan keuangan, lembaga keuangan keuangan multilateral, dan lembaga kesehatan global perlu ditingkatkan. Pendekatan multilateral untuk pembiayaan imunisasi ekstensif sebagai global public goods berdasarkan kolaborasi multi sektor domestik dan internasional juga perlu diperkuat. Oleh karena itu diperlukan pembiayaan Pandemic PPR (prevention, preparedness, and response) yang lebih memadai, berkelanjutan, dan terkoordinasi.

Pada kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan berbagai perkembangan terkini mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia dan perkembangan program pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional. Seperti PPN dan PPnBM DTP untuk beberapa tipe kendaraan bermotor roda empat, program KUR, dan program bantuan tunai PKL, warung, serta nelayan.

Selanjutnya juga dilakukan pembahasan mengenai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang pencapaian target kemiskinan ekstrem 0 persen di tahun 2024 dan percepatan penanganan kemiskinan melalui peningkatan efektifitas program dan pembangunan data yang terintegrasi.

Untuk mencapai target kemiskinan ekstrem 0 persen, diperlukan kebijakan afirmatif yang tidak hanya menyasar kelompok masyarakat miskin ekstrem, tetapi juga kelompok miskin dan rentan. World Bank yang mempunyai unit khusus untuk penanganan kemiskinan ekstrem dunia, menyampaikan akan membantu Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan arahan Presiden Jokowi.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Indonesia Kembali Masuk Negara Pendapatan Menengah Atas

Menko Perekonomian juga menyampaikan kondisi logistik nasional saat ini yang  merupakan salah satu unsur yang sangat menentukan perekonomian di Indonesia, khususnya di sektor ekspor dan impor. Pemerintah terus berupaya menghilangkan hambatan dan mengurangi biaya arus barang dalam perdagangan internasional dan domestik.

Salah satunya melalui National Logistics Ecosystem (NLE) yaitu sebuah platform yang menghubungkan penawaran dan permintaan logistik untuk meningkatkan kolaborasi dan sinergi antar Kementerian/Lembaga (K/L).

Diharapkan dengan NLE ini dapat dilakukan upaya perbaikan, penyederhanaan proses bisnis, penataan infrastruktur logistik, dan harmonisasi kebijakan logistik nasional. World Bank akan berkolaborasi dengan kemenko perekonomian dan kementerian/lembaga (K/L) terkait untuk menyusun kajian serta policy untuk mempercepat proses logistik di Indonesia.

Selain itu, Menko Airlangga juga mendiskusikan perihal transisi energi melalui perdagangan karbon dan energy transition mechanism (ETM) yang adil dan terjangkau tanpa memberi beban yang terlalu berat bagi masyarakat, industri, dan keuangan negara. Untuk hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dengan meluncurkan ETM dari batu bara ke energi terbarukan.

Dalam skema ETM ini, ADB dan pemerintah bersama-sama mengadakan studi kelayakan secara menyeluruh yang berfokus pada model bisnis yang optimal dengan memanfaatkan modal komersial, pemerintah donor, dan filantropis untuk peralihan menuju dekarbonisasi. Menko Airlangga berharap ada model transisi energi yang dapat dijadikan percontohan yang ke depannya dapat direplika untuk menarik investor agar dapat turut berpartisipasi dalam skema transisi energi ini.

Terkait dengan G20 Joint Finance Health Task Force, task force yang dipimpin bersama oleh Indonesia dan Italia dan dibantu sekretariat di WHO serta didukung World Bank. Karena itu, World Bank diharapkan dapat menyusun kebijakan tentang bagaimana mengembangkan mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan untuk kesehatan global. (don/adv)

Most Read

Artikel Terbaru

/