alexametrics
24.8 C
Madiun
Monday, July 4, 2022

Proyeksi Ekonomi Indonesia Sejalan dengan Ekspektasi Pemulihan Ekonomi Global

JAKARTA – Semua negara berupaya untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dan mendorong pemulihan ekonomi. Tanpa kecuali Indonesia. Diperlukan kebijakan yang saling melengkapi baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Dengan harapan, agar kedua sisi tersebut bisa pulih bersamaan.

Pada triwulan II-2021 perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy). Catatan itu tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage atau terbaik dalam 16 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara peer yang telah merilis angka pertumbuhannya. Seperti Vietnam (6,6 persen), Korea Selatan (5,9 persen), dan Arab Saudi (1,5 persen).

‘’Pada semester I-2021, berbagai indikator utama terus menunjukkan prospek perbaikan. Dampak pengetatan pembatasan mobilitas di Juli-Agustus 2021 diperkirakan hanya bersifat sementara. Aktivitas manufaktur dan permintaan terhadap pembiayaan KUR mulai meningkat lagi di Agustus 2021,’’ ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Webinar UOB Economic Outlook 2022 bertajuk “Empowering the Indonesian Economy for Stronger Recovery” di Jakarta pada Rabu (15/9).

Dari sisi eksternal, ekspor menunjukkan peningkatan. Sehingga neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 15 bulan berturut-turut. Dan, cadangan devisa relatif tinggi sebesar USD 144,8 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan terjaganya ketahanan sektor eksternal. Pemerintah juga telah menyiapkan strategi untuk mendorong pemulihan ekonomi di sisa tahun ini. Serta berharap perekonomian dapat kembali tumbuh ekspansif pada triwulan IV-2021.

Perekonomian Indonesia diproyeksikan dapat tumbuh di kisaran 3,7–4,5 persen di akhir 2021 dan 5,2 persen pada tahun depan. Proyeksi ekonomi Indonesia ini sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi global.

Menko Airlangga menerangkan bahwa pencapaian target pertumbuhan ekonomi bergantung pada peran serta masyarakat dalam meningkatkan efektivitas pengendalian pandemi Covid-19. ‘’Pemerintah terus memperkuat pengendalian pandemi dari sisi hulu hingga hilir guna memastikan pencegahan dan penanganan yang lebih efektif,’’ katanya.

Selain itu, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga terus ditingkatkan untuk mendukung penanganan Covid-19. Komitmen pemerintah ditunjukkan melalui refocusing APBN dalam mendorong peningkatan anggaran PEN 2021 menjadi sebesar Rp 744,77 triliun.

‘’Refocusing ini akan mendukung optimalisasi pelaksanaan PPKM melalui peningkatan anggaran untuk berbagai perlindungan sosial. Seperti percepatan pencairan bantuan sosial tunai, peningkatan jumlah penerima manfaat kartu sembako, melanjutkan program diskon listrik, serta meningkatkan anggaran kartu prakerja dan bantuan subsidi upah,’’ terang Airlangga yang juga Ketua KPCPEN itu.

Baca Juga :  Penetapan Perda Pertanggungjawaban APBD 2018

Keberlangsungan sektor usaha juga tetap menjadi fokus utama pemerintah. Serangkaian insentif fiskal telah diberikan untuk mendongkrak kinerja sektor usaha. Per 20 Agustus 2021, program penempatan dana pemerintah di perbankan telah mendorong total penyaluran kredit sebesar Rp 419,78 triliun yang berasal dari bank himbara, Bank Syariah, dan BPD.

Khusus untuk UMKM, telah disalurkan kredit sebesar Rp 241,48 triliun atau 57,53 persen dari total penyaluran kredit. Selain itu untuk pelaku UMKM, dukungan terus diberikan melalui tambahan BPUM dan bantuan PKL, perluasan program penjaminan kredit, tambahan subsidi bunga baik KUR dan Non KUR. Serta penambahan plafon KUR 2021 menjadi Rp 285 triliun.

Terkini, pemerintah juga meluncurkan program bantuan tunai pedagang kaki lima dan warung (BT-PKLW). Program itu menyasar pelaku UMKM informal yang selama ini belum tersentuh oleh program-program lain.

Dukungan tambahan dalam menjaga daya beli juga diberikan melalui program kartu prakerja. Program ini telah diberikan kepada 2,7 juta penerima efektif dengan total insentif sebesar Rp 6,47 triliun sepanjang semester I 2021 di 514 kabupaten/kota.

‘’Mengingat potensi dampak Covid-19 yang dapat berlanjut hingga 2022, pemerintah berkomitmen melanjutkan program PEN tahun depan. Alokasi anggaran PEN di 2022 adalah Rp 321,2 triliun. Alokasi ini berpotensi meningkat mengikuti dinamika penanganan pandemi Covid-19,’’ ujar Airlangga.

Kemudian untuk menutup kesenjangan pembiayaan infrastruktur dan mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Lembaga tersebut berperan mengembangkan peluang investasi di berbagai sektor utama sehingga dapat mendukung pembangunan berkelanjutan.

‘’Investasi yang dikelola LPI diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mendukung penciptaan lapangan kerja, dan mendorong transisi menuju ekonomi baru. Pemerintah juga akan segera mengalokasikan modal tambahan sebesar Rp 60 triliun di 2021 untuk mendukung optimalisasi LPI bagi perekonomian,’’ jelas Airlangga. (don/her/adv)

JAKARTA – Semua negara berupaya untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dan mendorong pemulihan ekonomi. Tanpa kecuali Indonesia. Diperlukan kebijakan yang saling melengkapi baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Dengan harapan, agar kedua sisi tersebut bisa pulih bersamaan.

Pada triwulan II-2021 perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy). Catatan itu tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage atau terbaik dalam 16 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara peer yang telah merilis angka pertumbuhannya. Seperti Vietnam (6,6 persen), Korea Selatan (5,9 persen), dan Arab Saudi (1,5 persen).

‘’Pada semester I-2021, berbagai indikator utama terus menunjukkan prospek perbaikan. Dampak pengetatan pembatasan mobilitas di Juli-Agustus 2021 diperkirakan hanya bersifat sementara. Aktivitas manufaktur dan permintaan terhadap pembiayaan KUR mulai meningkat lagi di Agustus 2021,’’ ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Webinar UOB Economic Outlook 2022 bertajuk “Empowering the Indonesian Economy for Stronger Recovery” di Jakarta pada Rabu (15/9).

Dari sisi eksternal, ekspor menunjukkan peningkatan. Sehingga neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 15 bulan berturut-turut. Dan, cadangan devisa relatif tinggi sebesar USD 144,8 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan terjaganya ketahanan sektor eksternal. Pemerintah juga telah menyiapkan strategi untuk mendorong pemulihan ekonomi di sisa tahun ini. Serta berharap perekonomian dapat kembali tumbuh ekspansif pada triwulan IV-2021.

Perekonomian Indonesia diproyeksikan dapat tumbuh di kisaran 3,7–4,5 persen di akhir 2021 dan 5,2 persen pada tahun depan. Proyeksi ekonomi Indonesia ini sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi global.

Menko Airlangga menerangkan bahwa pencapaian target pertumbuhan ekonomi bergantung pada peran serta masyarakat dalam meningkatkan efektivitas pengendalian pandemi Covid-19. ‘’Pemerintah terus memperkuat pengendalian pandemi dari sisi hulu hingga hilir guna memastikan pencegahan dan penanganan yang lebih efektif,’’ katanya.

Selain itu, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga terus ditingkatkan untuk mendukung penanganan Covid-19. Komitmen pemerintah ditunjukkan melalui refocusing APBN dalam mendorong peningkatan anggaran PEN 2021 menjadi sebesar Rp 744,77 triliun.

‘’Refocusing ini akan mendukung optimalisasi pelaksanaan PPKM melalui peningkatan anggaran untuk berbagai perlindungan sosial. Seperti percepatan pencairan bantuan sosial tunai, peningkatan jumlah penerima manfaat kartu sembako, melanjutkan program diskon listrik, serta meningkatkan anggaran kartu prakerja dan bantuan subsidi upah,’’ terang Airlangga yang juga Ketua KPCPEN itu.

Baca Juga :  Penetapan Perda Pertanggungjawaban APBD 2018

Keberlangsungan sektor usaha juga tetap menjadi fokus utama pemerintah. Serangkaian insentif fiskal telah diberikan untuk mendongkrak kinerja sektor usaha. Per 20 Agustus 2021, program penempatan dana pemerintah di perbankan telah mendorong total penyaluran kredit sebesar Rp 419,78 triliun yang berasal dari bank himbara, Bank Syariah, dan BPD.

Khusus untuk UMKM, telah disalurkan kredit sebesar Rp 241,48 triliun atau 57,53 persen dari total penyaluran kredit. Selain itu untuk pelaku UMKM, dukungan terus diberikan melalui tambahan BPUM dan bantuan PKL, perluasan program penjaminan kredit, tambahan subsidi bunga baik KUR dan Non KUR. Serta penambahan plafon KUR 2021 menjadi Rp 285 triliun.

Terkini, pemerintah juga meluncurkan program bantuan tunai pedagang kaki lima dan warung (BT-PKLW). Program itu menyasar pelaku UMKM informal yang selama ini belum tersentuh oleh program-program lain.

Dukungan tambahan dalam menjaga daya beli juga diberikan melalui program kartu prakerja. Program ini telah diberikan kepada 2,7 juta penerima efektif dengan total insentif sebesar Rp 6,47 triliun sepanjang semester I 2021 di 514 kabupaten/kota.

‘’Mengingat potensi dampak Covid-19 yang dapat berlanjut hingga 2022, pemerintah berkomitmen melanjutkan program PEN tahun depan. Alokasi anggaran PEN di 2022 adalah Rp 321,2 triliun. Alokasi ini berpotensi meningkat mengikuti dinamika penanganan pandemi Covid-19,’’ ujar Airlangga.

Kemudian untuk menutup kesenjangan pembiayaan infrastruktur dan mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Lembaga tersebut berperan mengembangkan peluang investasi di berbagai sektor utama sehingga dapat mendukung pembangunan berkelanjutan.

‘’Investasi yang dikelola LPI diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mendukung penciptaan lapangan kerja, dan mendorong transisi menuju ekonomi baru. Pemerintah juga akan segera mengalokasikan modal tambahan sebesar Rp 60 triliun di 2021 untuk mendukung optimalisasi LPI bagi perekonomian,’’ jelas Airlangga. (don/her/adv)

Most Read

Artikel Terbaru

/