alexametrics
24.2 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Rektor Unipma Parji Resmi Sandang Gelar Profesor

MADIUN, Jawa Pos Tadar Madiun – Kado termanis diterima Prof. Dr. H. Parji, M. Pd, di akhir masa jabatannya sebagai rektor Universitas PGRI Madiun (Unipma). Bapak dua anak itu hari ini secara resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan ilmu sosial. Menariknya, Parji merupakan guru besar pertama bagi Unipma. ”Ini anugerah dari Allah SWT,” ujar Parji Senin (18/10).

Meraih gelar profesor tidaklah mudah bagi Parji. Jadwal yang padat setiap harinya harus dilakoni pria 53 tahun itu. Fokus perhatian Parji pun tercurah untuk pengembangan kampus yang menaunginya saat ini, Unipma.

Kerja keras Parji dan timnya pun sudah teruji, Unipma kerap menyandang perguruan tinggi terbaik di Kopertis wilayah VII Jawa Timur maupun secara nasional. ”Jadwal sehari-hari saya memang padat, saya sering memimpin rapat, menerima kunjungan atau ke luar kota menjalankan tugas-tugas kampus. Tapi pandemi ini, intensitas untuk berpergian berkurang. Ini menjadi berkah tersendiri, sebab saya memiliki waktu untuk membuat jurnal internasional,” tuturnya.

Parji tergolong sangat produktif. Dalam setahun dia mampu menghasilkan tujuh jurnal internasional yang bereputasi. Jurnal tersebut diakui di Scopus maupun Thomson. Dalam pengerjaannya, pandemi sempat menjadi halangan. Sebab, interaksi dengan orang lain dibatasi.

Parji yang saat ini bekerja dari rumah pun tidak kehilangan akal. Dia membuat penelitian dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana berinteraksi. ”Namanya membuat jurnal ya harus tetap terjun ke lapangan melakukan riset dan observasi. Pandemi yang mengharuskan jaga jarak bukan menjadi alasan. Makanya saya manfaatkan media seperti Whatsapp (WA) dan telepon untuk melakukan wawancara,” katanya.

Tujuh jurnal yang dibuatnya pun dikirimkan Parji ke Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Jawa Timur, lalu diusulkan ke Jakarta pada Juli 2020 dan Desember 2020 sudah mendapatkan surat keputusan (SK) Guru Besar. Tidak sekadar pembuatan jurnal internasional bereputasi, seorang calon guru besar pun harus memenuhi syarat lainnya. Di antaranya, memenuhi angka kredit kumulatif Tri Dharma perguruan tinggi pendidikan, wajib melakukan pengajaran, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Minimal kredit angka kumulatif adalah 850. “Alhamdulillah, saya bisa memenuhi ketentuan tersebut. Selama menjadi rektor, saya tetap terlibat dalam pengabdian pada masyarakat. Misalnya menjadi pembicara atau pun narasumber di KPUD, Bawaslu maupun lembaga-lembaga lainnya. Saya juga terlibat dalam tim seleksi jabatan tinggi di sejumlah pemerintah daerah. Itu juga menjadi cara saya untuk berbagi ilmu dengan yang lain,” ungkapnya.

Baca Juga :  UT Surabaya Buka Pendaftaran Magister dan Doktor

Parji memang dikenal sebagai tokoh pendidikan yang produktif dan beprestasi di Kota Madiun. Dia aktif berkeliling hampir seluruh kampus di Jatim untuk memberikan diklat. Mulao kampus di Sumenep, Pacitan, Surabaya, Malang, hingga Banyuwangi. Parji juga kerap dimintai kontribusi terkait pemikiran terkait kebijakan di daerah, regional maupun nasional.

Bahkan hal itu sudah dijalankannya sebelum berstatus guru besar. Dengan pengukuhan secara resmi hari ini, tugas Parji dipastikan bertambah banyak meski kelak jika masa jabatan rektornya berakhir. ”Bukan hanya guru besar, saya aktif di sejumlah organisasi. Malah bisa dikatakan saya nanti lebih sibuk dari pada rektor,” kata pria yang sudah tiga dasawarsa mengabdi di Unipma itu.

Saat ini Parji telah memperoleh tugas sebagai tim penilai kenaikan pangkat dosen di LLDIKTI Wilayah VII Jatim. Setiap bulan bertugas menilai 10 dosen dari berbagai kampus yang mengusulkan kenaikan pangkat. ”Ini tidak sekadar penilaian, tapi butuh kejelian dan kosentrasi tinggi. Karena yang dinilaia penelitian dan karya ilmiah dari dosen. Yang dicek banyak, misalnya cek plagiasinya seperti apa,” paparnya.

Menurut Parji, keberadaan guru besar di Unipma baru kali pertama, tapi bukan akhir. Dia pun berharap jumlah guru besar di Unipma terus bertambah setiap tahunnya. Parji melihat para dosen di kampus tersebut sudah banyak yang memenuhi kualifikasi, baik dari pendidikan doktoral maupun kepangkatan.

”Dulu saya menjadi doktor pertama dan sekarang sudah ada 40 doktor. Saya juga berharap gelar guru besar ini juga akan disusul yang lainya. Target dalam kurun waktu dua tahun yang akan datang minimal ada lima guru besar di sini. Pondasi sudah saya letakkan dengan baik. Harapannya, prestasi di kampus ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Saya juga akan terus berkomitmen memajukan kampus ini,” pungkasnya. (afi/aan/adv)

MADIUN, Jawa Pos Tadar Madiun – Kado termanis diterima Prof. Dr. H. Parji, M. Pd, di akhir masa jabatannya sebagai rektor Universitas PGRI Madiun (Unipma). Bapak dua anak itu hari ini secara resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan ilmu sosial. Menariknya, Parji merupakan guru besar pertama bagi Unipma. ”Ini anugerah dari Allah SWT,” ujar Parji Senin (18/10).

Meraih gelar profesor tidaklah mudah bagi Parji. Jadwal yang padat setiap harinya harus dilakoni pria 53 tahun itu. Fokus perhatian Parji pun tercurah untuk pengembangan kampus yang menaunginya saat ini, Unipma.

Kerja keras Parji dan timnya pun sudah teruji, Unipma kerap menyandang perguruan tinggi terbaik di Kopertis wilayah VII Jawa Timur maupun secara nasional. ”Jadwal sehari-hari saya memang padat, saya sering memimpin rapat, menerima kunjungan atau ke luar kota menjalankan tugas-tugas kampus. Tapi pandemi ini, intensitas untuk berpergian berkurang. Ini menjadi berkah tersendiri, sebab saya memiliki waktu untuk membuat jurnal internasional,” tuturnya.

Parji tergolong sangat produktif. Dalam setahun dia mampu menghasilkan tujuh jurnal internasional yang bereputasi. Jurnal tersebut diakui di Scopus maupun Thomson. Dalam pengerjaannya, pandemi sempat menjadi halangan. Sebab, interaksi dengan orang lain dibatasi.

Parji yang saat ini bekerja dari rumah pun tidak kehilangan akal. Dia membuat penelitian dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana berinteraksi. ”Namanya membuat jurnal ya harus tetap terjun ke lapangan melakukan riset dan observasi. Pandemi yang mengharuskan jaga jarak bukan menjadi alasan. Makanya saya manfaatkan media seperti Whatsapp (WA) dan telepon untuk melakukan wawancara,” katanya.

Tujuh jurnal yang dibuatnya pun dikirimkan Parji ke Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Jawa Timur, lalu diusulkan ke Jakarta pada Juli 2020 dan Desember 2020 sudah mendapatkan surat keputusan (SK) Guru Besar. Tidak sekadar pembuatan jurnal internasional bereputasi, seorang calon guru besar pun harus memenuhi syarat lainnya. Di antaranya, memenuhi angka kredit kumulatif Tri Dharma perguruan tinggi pendidikan, wajib melakukan pengajaran, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Minimal kredit angka kumulatif adalah 850. “Alhamdulillah, saya bisa memenuhi ketentuan tersebut. Selama menjadi rektor, saya tetap terlibat dalam pengabdian pada masyarakat. Misalnya menjadi pembicara atau pun narasumber di KPUD, Bawaslu maupun lembaga-lembaga lainnya. Saya juga terlibat dalam tim seleksi jabatan tinggi di sejumlah pemerintah daerah. Itu juga menjadi cara saya untuk berbagi ilmu dengan yang lain,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ada Starting Grid ala Moto GP di Perempatan Tugu

Parji memang dikenal sebagai tokoh pendidikan yang produktif dan beprestasi di Kota Madiun. Dia aktif berkeliling hampir seluruh kampus di Jatim untuk memberikan diklat. Mulao kampus di Sumenep, Pacitan, Surabaya, Malang, hingga Banyuwangi. Parji juga kerap dimintai kontribusi terkait pemikiran terkait kebijakan di daerah, regional maupun nasional.

Bahkan hal itu sudah dijalankannya sebelum berstatus guru besar. Dengan pengukuhan secara resmi hari ini, tugas Parji dipastikan bertambah banyak meski kelak jika masa jabatan rektornya berakhir. ”Bukan hanya guru besar, saya aktif di sejumlah organisasi. Malah bisa dikatakan saya nanti lebih sibuk dari pada rektor,” kata pria yang sudah tiga dasawarsa mengabdi di Unipma itu.

Saat ini Parji telah memperoleh tugas sebagai tim penilai kenaikan pangkat dosen di LLDIKTI Wilayah VII Jatim. Setiap bulan bertugas menilai 10 dosen dari berbagai kampus yang mengusulkan kenaikan pangkat. ”Ini tidak sekadar penilaian, tapi butuh kejelian dan kosentrasi tinggi. Karena yang dinilaia penelitian dan karya ilmiah dari dosen. Yang dicek banyak, misalnya cek plagiasinya seperti apa,” paparnya.

Menurut Parji, keberadaan guru besar di Unipma baru kali pertama, tapi bukan akhir. Dia pun berharap jumlah guru besar di Unipma terus bertambah setiap tahunnya. Parji melihat para dosen di kampus tersebut sudah banyak yang memenuhi kualifikasi, baik dari pendidikan doktoral maupun kepangkatan.

”Dulu saya menjadi doktor pertama dan sekarang sudah ada 40 doktor. Saya juga berharap gelar guru besar ini juga akan disusul yang lainya. Target dalam kurun waktu dua tahun yang akan datang minimal ada lima guru besar di sini. Pondasi sudah saya letakkan dengan baik. Harapannya, prestasi di kampus ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Saya juga akan terus berkomitmen memajukan kampus ini,” pungkasnya. (afi/aan/adv)

Most Read

Artikel Terbaru

/