KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sambal pecel khas Madiun menjadi komoditas yang menjanjikan untuk dipasarkan hingga keluar daerah. Tidak hanya mendatangkan untung bagi pemilik usaha, tapi juga bisa memperluas lapangan kerja. Dengan semangat tersebut, tim Pengabdian Kegiatan Masyarakat (PKM) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun terjun ke tengah masyarakat.
Tim yang terdiri dosen dan mahasiswa ini mendapatkan dana dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Dirjen Dikti Ristek) untuk membantu menata manajemen produksi dan usaha dari pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pembuatan sambal pecel Madiun. Pihak UKWMS menggunakan tema Generasi Penerus dalam Upaya Pengembangan dan Eksistensi Usaha Sambal Pecel di Kota Madiun untuk pengabdiannya. ''Kami ingin kuliner khas Kota Madiun ini bisa berkembang ke luar daerah, bahkan luar negeri. Dan ini membutuhkan effort untuk mewujudkan, khususnya pemberdayaan generasi muda untuk menjadi entepreneur,'' ujar Ketua Tim PKM UKWMS Vinsensius Widdy Tri Prasetyo.
Tim ini pun melakukan pendampingan pada dua mitranya, yakni sambal pecel Wahyu Tumurun di Kelurahan Banjarejo dan usaha sambal pecel Tumpang Mas di Kelurahan Madiun Lor. Generasi muda yang terlibat dalam usaha rumahan ini pun diberi pelatihan untuk membuat sambal pecel dengan cara modern. Yakni dengan menggunakan mesin produksi yang memiliki kapasitas cukup besar. ''Lewat pelatihan dan pendampingan ini kami memberikan solusi agar lebih cepat produksinya dan lebih awet sambal pecelnya,” jelas Vinsensius
Tidak hanya itu, pihak UKWMS juga berupaya membangun jiwa kewirausahaan (psiko preneuship) para pemilik usaha sambal pecel. Misalnya dengan menggelar lokakarya terkait manajemen produksi, diharapkan generasi penerus mengetahui bagaimana me-manage usaha. Juga diadakan lokakarya analisis pasar sasaran untuk menentukan pasar dari sambal pecel, dan lokakarya manajemen strategi usaha sambal pecel. “Juga ada pelatihan mitra bersama anggota, mahasiswa diajari cara mengsangrai dengan mesin, cara menggiling dengan mesin yang benar sesuai permintaan pasar. Terakhir, pelatihan penggunaan mesin vakum supaya sambal pecel lebih tahan lama atau awet,” tambahnya.
Menurutnya tidak ada kendala berarti. Sebab tim beserta mitra melakukan kegiatan dengan baik dan kooperatif. Selepas pelatihan, permintaan produksi terus mengalir. Khususnya untuk proses vakum. “Tidak hanya memberikan pelatihan, kami juga sudah menghibahkan mesin sangrai, mesin giling kacang, mesin vakum, ada sealer plastik, dan peralatan lainnya kepada mitra,” terangnya.
Pengabdian dan pemberdayaan ini menjadi tempat proses belajar sesungguhnya. Dosen dan mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis tapi menjadikan obyek mitra ini menjadi implementasi atas apa yang sudah dipelajari, untuk membuka peluang kerja wirausaha. “Diharapkan ada keberlanjutan yang sudah ditandai dengan komitmen bersama tim, mitra, dan anggota. Ke depannya, mitra semakin mandiri dalam melakukan beragam aktivitas produksi sambal pecel,'' pungkasnya. (ti4/aan/adv)
Editor : Hengky Ristanto