Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sekilas Serak Jawa

Mizan Ahsani • Sabtu, 11 November 2023 | 23:20 WIB

 

Serak Jawa atau bernama latin Tyto Alba
Serak Jawa atau bernama latin Tyto Alba

INDONESIA memiliki dua grup besar burung hantu, yaitu Burung Hantu Serak dengan ukuran panjang tubuh sekitar 30 cm dan Burung Hantu Celepuk berukuran sedikit lebih kecil sekitar 25 cm.

Kerabat burung hantu Serak diklasifikasikan ke dalam suku Tytonidae, sedangkan Celepuk dikelompokkan ke dalam suku Strigidae.

Secara spesifik sebagai pemangsa di malam hari (nokturnal), burung hantu mempunyai doa bola mata besar yang menghadap kedepan.

Ia memiliki pekikan suara angker dan “parau” yang bisa bikin bulu kuduk berdiri di waktu malam, sehingga membuatnya diberi nama “burung hantu”.

Burung hantu memiliki kepala besar dan bulat, muka lebar rata/datar berbentuk mirip “hati”, dan mata selalu mengawasi ke depan.

Bentuk piringan muka yang khas di seputar matanya berfungsi untuk membesarkan suara ke telinga.

Burung hantu berburu mangsa terutama dengan bantuan telinga yang mampu mendeteksi suara hingga sejauh 500 meter.

Bulu-bulu sayap lembut sehingga tidak terdengar ketika terbang untuk menangkap mangsanya.

Keunikan burung hantu lainnya adalah kaki panjang dan sangat kokoh serta mempunyai daya cengkeram yang kuat.

Burung hantu Serak yang dimiliki Indonesia terdiri dari 1 marga Tyto dan 1 marga Phodilus. Jumlah spesies burung hantu Tyto yang lebih sering disebut Serak terbagi ke dalam 8 spesies dan yang paling terkenal adalah Tyto alba (Serak Jawa).

Ketenarannya Tyto alba dikarenakan memiliki peranan sebagai pengendali hama tikus yang andal dan dalam praktek kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk memberantas hama tikus di perkebunan kelapa sawit maupun area persawahan.

Serak Jawa mempunyai daerah penyebaran yang lebih luas dibandingkan kerabatnya.
Kerabat Tytonidae di Indonesia secara rinci adalah sebagai berikut:

Keragaman jenis mangsa burung hantu
Variasi jenis pakan burung hantu di alam sangat beragam, di antaranya adalah tikus, anakan kelinci, tupai, burung-burung kecil, kelelawar, kodok, kadal, cicak, tokek dan serangga.

Berdasarkan penelitian dilaporkan bahwa meski burung hantu 99% memakan tikus tetapi tidak memakan jenis tikus “cecurut berit” (Suncus murinus).

Hal itu disebabkan daging cecurut berit mengeluarkan bau busuk dan burung hantu tercatat tidak suka makan bangkai tikus.

Semalaman burung hantu dewasa sanggup memakan 2 sampai 3 ekor tikus hidup. Bahkan, ia dilaporkan mampu mengkonsumsi hingga 5 ekor tikus.

Berdasarkan hasil penelitian Astuti dan kawan-kawan (2004) dalam papernya yang berjudul; Tipe Hunian dan Jenis Mangsa Burung Serak Tyto alba javanica pada Ekosistem Persawahan, dengan cara menganalisis 2161 pelet (sisa-sisa pakan) di bawah pohon tidurnya diperoleh 86,90% tikus; 5,49% burung; 3,08% serangga; 2,07% kelelawar dan 1,17% lain-lain. Lain-lain yang dimaksudkan adalah katak, tokek, tupai, dan cicak.

Di ekosistem perkebunan monokultur, seperti kelapa sawit ternyata burung hantu mengkonsumsi 98% tikus pohon (Rattus tiomanicus). Sedangkan, burung hantu yang menempati ekosistem persawahan memakan 94,7% tikus sawah (Rattus argentiventer).

Aktivitas Harian

Burung hantu di alam tidak membuat sarang sendiri, tetapi lebih sering menggunakan sarang yang sudah ada atau mengambil sarang yang ditinggalkan.

Bahkan diperkotaan, tipe hunian burung hantu (Serak Jawa) adalah di kompleks perkantoran/kampus-kampus perguruan tinggi atau gedung-gedung tua yang sunyi dan sarang Serak Jawa dibuatnya pada ruangan di atas plafon bangunan.

Kondisi di atas amat berbeda bila sengaja burung hantu tersebut dikembangbiakan di kawasan persawahan, perkebunan kopra atau kelapa sawit dengan membuatkan kotak-kotak sarang buatan berbentuk pagupon atau kotak sangkar mirip sangkar merpati.

Menurut Departemen Proteksi Tanaman IPB, kotak-kotak pagupon itu berukuran panjang 90 cm, lebar 50 cm dan tinggi 60 cm.

Kemudian, pagupon dipasang pada salah satu pohon kopra atau ditancapkan di tempat yang aman dan tidak terganggu pada tiang yang kokoh setinggi sekitar 4-5 m dari permukaan tanah.

Biasanya, satu pasang burung hantu mampu terbang hingga pada jarak sekitar 13 km. Daerah jelajah sepasang burung hantu diperkirakan mampu mencapai 20 hektar.

Sehingga, lahan perkebunan atau persawahan seluas 1000 hektar, paling tidak harus terdapat 50 pagupon atau 50 pasang burung hantu dewasa.

Aktivitas rutin burung hantu tersebut dalam interval waktu 24 jam ternyata 61,39%-nya adalah istirahat atau sejumlah 14 jam 44 menit. Kemudian, 24,58% (5 jam 54 menit) berburu; 9,24% (2 jam 13 menit) bertengger, 4,17% (1 jam) terbang; 0,28% (±4 menit) bercumbu dan 0,28% (±5 menit) melakukan aktivitas bertarung.

Bertarung ini ditandai jika ada burung hantu yang bukan pasangannya mengganggu.

Ancaman

Tingkat keterancaman burung hantu tak jauh berbeda dengan jenis burung lainnya. Apalagi burung hantu pada tingkat rantai makanan berada sebagai “top predator”, sehingga paling rentan posisinya di alam.

Artinya, jika salah satu rantai makanan itu terputus maka burung hantu paling tinggi tingkat kepunahannya.

Sesungguhnya, burung hantu seperti Serak Jawa termasuk adaptif. Ia memiliki kemampusn untuk membunuh atau memangsa tikus cukup baik.

Selain itu burung hantu dapat dipindahkan ke lokasi lain, misalnya ke area perkebunan sawit untuk diperbantukan mengurangi serangan buah sawit dari populasi tikus.

Jika lingkungan mendukung, dan banyak tikus cukup serta aman, maka sepasang burung hantu tiap tahun dapat berbiak dua kali dan tiap kali breeding bisa menghasilkan 3-10 telur.

Masa mengeram berlangsung sekitar 1 bulan dan anakan lepas dari induk untuk mandiri setelah berumur 8 bulan.
Namun demikian, berbagai ancaman burung hantu bisa saja terjadi dari dalam (faktor internal) spesies.

Kondisi ini dapat terjadi akibat kian terbatasnya populasi burung hantu di alam, sehingga perkawinan inbreeding mungkin tidak terelakkan.

Proses inbreeding ini yang berlangsung secara terus menerus menyebabkan kian menurunnya kekebalan tubuh dan kerentanan spesies tersebut dari suatu penyakit.

Ancaman internal lainnya adalah adanya tragedi atau bencana alam seperti kekeringan saat ini. Kekeringan akibat perubahan iklim ini dapat meningkatkan temperatur lingkungan meningkat dan bukan tidak mungkin bisa menimbulkan kebakaran hutan sewaktu-waktu.

Bila hal itu terjadi siang hari maka sulit bagi burung hantu yang berhabitat di lubang-lubang pohon di hutan untuk terbang jauh, karena burung hantu pada siang hari tidur.

Sementara itu, ancaman burung hantu dari luar (faktor eksternal) lebih sering terjadi karena ulah manusia. Di antaranya adalah deforestasi dan degradasi hutan/lahan.

Deforestasi adalah perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Sedangkan, degradasi hutan adalah penurunan kualitas dan kuantitas tutupan hutan.

Degradasi lahan terjadi sebagai proses penurunan produksi lahan, baik bersifat sementara maupun tetap.

Akibat hilangnya tumbuhan hutan, baik kualitas maupun kuantitasnya sudah jelas dapat berdampak pada populasi burung hantu di alam. Ini semua bisa saja terjadi karena burung hantu kehilangan sejumlah sumber pakan.

Bahkan akibat pestisida baik di area persawahan maupun perkebunan, kondisi itu dapat mencemari lingkungan.

Selain itu hilangnya struktur dan perubahan bangunan gedung-gedung tua serta hiruk pikuknya manusia di perkotaan saat ini sudah pasti juga akan mengancam kehadiran pasangan-pasangan burung hantu Serak di perkotaan.

Kiranya, bagi para konservasionis perubahan itu harus diantisipasi secara cermat. Para pemangku kebijakan pun seharusnya juga harus lebih bijak.

Bagaimana menyeimbangkan progam pembangunan berkelanjutan dari tiga pilar aspek, yaitu lingkungan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan bisa berjalan tidak merugikan semua pihak.

Bila saja dipandang aspek lingkungan memiliki nilai endemisitas tinggi dan top-top predator berada di dalam lingkaran segitiga tersebut, seyogyanya faktor ekonomi dan sosial bisa diselaraskan. (W. Widodo-staf BRIN/*)

Nama: W. Widodo

NIP: 195812151987011001

Pekerjaan: Peneliti ekologi burung

Jabatan: Peneliti utama

Alamat: Jalan Binamarga RT04/RW11 No 116, Baranangsiang, Bogor, 16143

Pengalaman menulis             

Buku: Variasi Warna, Ukuran dan Bentuk Telur Burung Non-passerine (Kolaborasi: W.Widodo, Yohanna Dalimunthe, M.Irham. Penerbit IPB Press Ed 1 Oktober 2023)

Editor : Mizan Ahsani
#satwa #serak jawa #burung hantu #Tyto Alba