Jawa Pos Radar Madiun – Bicara soal Ponorogo tak bisa dilepaskan dari tradisi dan alamnya yang kuat berakar.
Tak sekadar dikenal sebagai Kota Reog, Kabupaten Ponorogo juga memiliki flora dan fauna khas yang sarat makna.
Yakni, pohon sonokeling sebagai flora identitas, dan burung merak sebagai fauna khas yang juga mewakili jiwa kesenian daerah.
Sonokeling (Dalbergia latifolia) merupakan jenis kayu keras asli tropis yang ditetapkan sebagai flora khas Kabupaten Ponorogo.
Pohon ini tumbuh di daerah pegunungan seperti wilayah Slahung dan Pulung.
Serta, dikenal karena warna kayunya yang gelap dan seratnya indah.
Kayu sonokeling bernilai tinggi karena kerap digunakan dalam pembuatan mebel kelas atas, alat musik, dan ukiran khas Jawa.
Selain itu, kekuatan dan keindahan sonokeling dianggap mencerminkan keteguhan karakter masyarakat Ponorogo.
Sonokeling bukan hanya komoditas, tapi juga simbol ketahanan dan kemegahan.
Seperti semangat warga Ponorogo yang tangguh.
Untuk fauna, siapa yang tak kenal burung merak (Pavo muticus). Ikon utama dalam kesenian Reog Ponorogo.
Fauna ini bukan hanya menjadi penghias dadak merak.
Tapi, juga fauna khas yang hidup di hutan-hutan lindung Ponorogo bagian selatan, seperti kawasan perbukitan Ngebel dan Sooko.
Merak dikenal karena bulu ekornya yang mewah dan indah saat mekar.
Dalam tradisi Reog, sosok merak melambangkan kecantikan, kekuasaan, dan perlindungan.
Burung ini dilindungi karena populasinya menurun akibat perburuan liar dan kerusakan habitat.
Baik sonokeling maupun merak bukan hanya bagian dari ekosistem.
Tapi, juga bagian dari identitas budaya Ponorogo.
Keduanya mewakili perpaduan antara kekayaan alam dan kekuatan seni yang menjadi ciri khas daerah ini.
Upaya pelestarian pun terus dilakukan, mulai dari program reboisasi sonokeling hingga patroli konservasi untuk melindungi populasi merak di habitat alaminya. (den)
Editor : Deni Kurniawan