Jawa Pos Radar Madiun – Setiap daerah memiliki flora dan fauna khas masing-masing. Berupa keanekaragaman hayati yang menjadi identitas suatu daerah. Tak terkecuali Kabupaten Ngawi.
Daerah ini juga punya flora dan fauna khas. Yakni, tumbuhan cerme (Phyllanthus acidus) dan burung decu belang. Dua ikon itu ditetapkan menjadi flora dan fauna khas bukan tanpa pertimbangan. Ini ulasan tentang cerme dan decu belang milik Ngawi.
Cerme merupakan tanaman perdu ini tumbuh subur di lahan pekarangan warga. Terutama di kawasan pedesaan yang masih lestari.
Buah cerme berbentuk bulat bergerigi, berwarna hijau muda hingga kuning pucat ketika matang. Rasanya sangat asam. Sehingga sering dijadikan bahan rujak, manisan, atau jamu tradisional.
Selain menyegarkan, cerme juga kaya vitamin C dan dipercaya membantu menurunkan tekanan darah. Menariknya, tanaman ini punya makna tersendiri di beberapa desa di Ngawi.
Cerme juga dianggap tanaman warisan leluhur karena sudah ditanam sejak generasi ke generasi. Meski banyak tanaman buah modern hadir, cerme tetap lestari sebagai ikon lokal.
Sementara untuk fauna, Decu Belang ditetapkan sebagai satwa khas Ngawi. Burung kecil bernama latin Saxicola caprata itu merupakan salah satu burung liar.
Fauna khas Ngawi ini sering dijumpai di lahan terbuka, padang rumput, dan tepi persawahan.
Burung ini memiliki tubuh kecil dengan warna hitam mengilap pada jantan dan dada putih terang, menciptakan tampilan kontras mencolok.
Suara kicauan decu belang cukup nyaring dan bervariasi. Ini membuatnya jadi incaran para pecinta burung kicau.
Di Ngawi, burung ini masih bisa ditemukan di alam bebas berkat kondisi lingkungan yang relatif terjaga.
Selain menarik secara visual, decu belang juga berperan dalam ekosistem pertanian sebagai pengendali hama alami. Keberadaannya menjadi penanda kawasan pertanian yang sehat dan alami.
Berpredikat sebagai flora dan fauna khas, nelestarikan cerme dan decu belang menjadi sebuah kebanggaan bagi warga Ngawi. Keduanya juga punya potensi ekowisata dan edukasi lingkungan.
Dinas lingkungan hidup setempat perlu mendorong program konservasi dan edukasi sekolah berbasis kekayaan hayati lokal.
Masyarakat pun diajak untuk terus menjaga kelestarian tanaman cerme dan habitat decu belang dari ancaman alih fungsi lahan dan perburuan liar. (den)
Editor : Deni Kurniawan