JAWA POS RADAR MADIUN - Jakarta bukan cuma tentang ondel-ondel dan monas. Tapi, juga memiliki flora dan fauna khas.
Sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki dua ikon tanaman dan satwa sebagai ciri khas daerah.
Daerah yang lekat dengan budaya Betawi ini ternyata memilih salak condet sebagau flora khas. Sementara untuk fauna khas, ditentukan elang bondol.
Salak Condet (Salacca zalacca) merupakan flora identitas DKI Jakarta yang dulunya banyak dibudidayakan di kawasan Condet, Jakarta Timur.
Berbeda dengan salak biasa, Salak Condet punya kulit halus dan daging buah lebih manis dengan rasa sedikit sepat yang khas.
Sayangnya, seiring urbanisasi dan alih fungsi lahan, populasi Salak Condet makin menyusut.
Banyak kebun salak berubah menjadi permukiman.
Kini, upaya pelestarian dilakukan lewat kebun konservasi dan kegiatan komunitas di kawasan Condet sebagai bagian dari pelestarian budaya Betawi.
Salak Condet bukan hanya buah, tapi simbol sejarah pertanian dan budaya asli Jakarta.
Kalau satwa khasnya, Elang Bondol (Haliastur indus) telah lama ditetapkan sebagai fauna khas DKI Jakarta.
Burung pemangsa ini mudah dikenali dari bulu putih di kepala dan cokelat di badan.
Mirip burung garuda dalam lambang negara. Pun, dijuluki elang laut kepala putih.
Elang Bondol dulu sering terlihat di kawasan pesisir utara Jakarta, seperti Muara Angke dan Kepulauan Seribu.
Namun, populasinya kini terancam punah karena pencemaran lingkungan dan hilangnya habitat mangrove.
Berbagai upaya konservasi telah dilakukan, termasuk penangkaran di Suaka Margasatwa Muara Angke dan edukasi masyarakat pesisir agar tidak menangkap atau memperjualbelikan burung ini.
Flora dan fauna khas Jakarta, Salak Condet dan Elang Bondol bukan hanya simbol, tapi juga bagian dari identitas budaya dan ekosistem perkotaan.
Pelestarian keduanya mencerminkan komitmen kota besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan warisan lokal. (den)
Editor : Deni Kurniawan