Jawa Pos Radar Solo – Kota Solo memang gudangnya budaya Jawa. Bahkan, kekayaan hayati yang menjadi simbol identitas daerah juga sarat nilai budaya.
Pemerintah Kota Surakarta secara resmi menetapkan daun sirih sebagai flora khas, dan burung punai penganten sebagai fauna khas kota ini.
Penetapan flora dan fauna itu tidak hanya berdasar pada keberadaan fisik keduanya di lingkungan kota. Tetapi, juga pada nilai filosofis dan peran ekologis yang terkandung di dalamnya.
Bagi Kota Solo, sirih merupakan flora simbol kesucian dan keharmonisan.
Daun sirih (Piper betle) dikenal luas dalam budaya Jawa sebagai simbol kesucian, penghormatan, dan kebersamaan.
Daun ini tak pernah absen dalam upacara tradisi Jawa, seperti midodareni, lamaran, hingga siraman.
Pemilihan sirih sebagai flora khas Solo merepresentasikan karakter dan budaya masyarakatnya yang ramah, sopan, dan menjaga tradisi.
Tanaman ini juga memiliki khasiat kesehatan seperti sebagai antiseptik alami, obat batuk, hingga penghilang bau mulut.
Secara ekologis, sirih tumbuh subur di pekarangan rumah warga.
Juga, memiliki fungsi konservatif karena akarnya membantu menjaga kelembapan tanah.
Sementara burung punai penganten, merupakan simbol keindahan dan kedamaian kota yang juga kerap disebut Surakarta itu.
Punai penganten (Treron vernans) adalah burung berwarna hijau kekuningan dengan gradasi merah muda pada bagian dada janta.
Itu mirip pakaian pengantin tradisional Jawa, sehingga disebut punai penganten.
Burung ini banyak dijumpai di taman-taman kota, seperti kawasan Balekambang dan hutan kota Jurug.
Satwa ini hidup berkelompok, pemalu, dan sangat menjaga pasangannya.
Pun, menjadi simbol kesetiaan dan keharmonisan.
Pemilihan burung ini sebagai fauna khas Solo atau Surakarta memperkuat citra kota sebagai tempat yang damai, asri, dan selaras dengan nilai budaya.
Penetapan sirih dan punai penganten bukan sekadar formalitas.
Pemkot Solo mendorong warga untuk menanam sirih di pekarangan dan menjaga keberadaan punai di lingkungan terbuka hijau.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat sekaligus melestarikan budaya lokal.
Keduanya menjadi simbol bahwa kota ini tidak hanya kaya tradisi, tapi juga memiliki komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. (den)
Editor : Deni Kurniawan