Jawa Pos Radar Madiun - Kabupaten Banyumas yang terletak di Provinsi Jawa Tengah bukan hanya dikenal dengan budaya Ngapaknya yang khas.
Tetapi, juga menyimpan kekayaan alam luar biasa. Salah satu kekayaan tersebut hadir sebagai flora Nagasari (Mesua ferrea) dan fauna Trocokan (Pycnonotus aurigaster).
Keduanya bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati Banyumas, tapi juga menyimpan nilai historis, ekologis, hingga budaya yang menarik untuk diketahui.
Nagasari adalah pohon tropis yang sudah lama dikenal dalam budaya Jawa sebagai simbol kesucian dan perlindungan.
Dalam tradisi lokal, terutama di Banyumas dan sekitarnya, pohon ini sering ditanam di dekat tempat-tempat suci seperti makam leluhur atau pura.
Kayunya keras dan tahan lama, sehingga banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan kuno seperti tiang masjid atau pintu gerbang.
Buah nagasari diyakini membawa keberuntungan dan sering dijadikan jimat.
Sejumlah orang percaya terhadap hal ini untuk beberapa keperluan.
Alhasil, banyak yang menjadikannya sebagai jimat.
Pohon ini disebut dalam cerita pewayangan dan kitab kuno sebagai pohon yang membawa kedamaian.
Di Banyumas, beberapa pohon Nagasari yang sudah berusia ratusan tahun masih bisa ditemukan di desa-desa adat.
Berfungsi sebagai peneduh alami.
Mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah tinggi.
Bunga Nagasari yang harum juga menjadi sumber pakan lebah dan serangga penyerbuk lainnya.
Burung Trocokan atau yang juga dikenal dengan nama Kutilang Jambul adalah spesies endemik yang banyak ditemukan di area hutan dan pekarangan di Banyumas.
Burung ini terkenal karena suaranya yang nyaring dan merdu, sering kali menjadi ‘penanda pagi’ bagi warga pedesaan.
Trocokan mampu meniru suara burung lain, mirip seperti burung beo.
Burung ini berperan penting dalam penyebaran biji-bijian hutan karena pola makannya yang buah-buahan.
Dalam budaya Banyumas, suara trocokan dianggap membawa suasana damai dan semangat baru.
Berukuran sedang, sekitar 20 cm.
Warna bulunya cokelat zaitun dengan jambul mencolok di kepala.
Sering terlihat berpasangan dan hidup dalam kelompok kecil.
Keberadaan flora Nagasari dan fauna Trocokan menunjukkan betapa kaya dan pentingnya keanekaragaman hayati lokal.
Sayangnya, urbanisasi dan perusakan habitat mengancam eksistensi keduanya. Oleh karena itu, edukasi dan pelestarian menjadi langkah penting. (*/den)
*Fauzia Adelia Cahya Ningrum/Politeknik Negeri Madiun
Editor : Deni Kurniawan