Jawa Pos Radar Madiun – Tak semua sate hadir dengan baluran bumbu kacang atau kecap manis.
Di Bantul, Yogyakarta, terdapat sebuah kuliner tradisional yang justru tampil dengan cara berbeda namun mampu menghipnotis para penikmat daging kambing: Sate Klathak.
Sate khas ini berasal dari kawasan Pleret dan dikenal luas karena keunikannya — baik dari segi teknik, penyajian, hingga filosofi di baliknya.
Jika Anda tengah merencanakan kunjungan ke Yogyakarta, mencicipi Sate Klathak seolah menjadi sebuah keharusan.
Bunyi “Klathak” dan Jeruji Sepeda yang Jadi Ciri Khas
Nama Sate Klathak tak hadir tanpa makna. Bunyi “klathak-klathak” yang timbul saat lemak kambing menetes ke bara api menjadi inspirasi penamaannya.
Tapi bukan hanya soal suara, metode pemanggangan sate ini sangat unik: menggunakan jeruji besi sepeda sebagai tusukannya, bukan tusuk bambu seperti pada umumnya.
Jika kebanyakan sate dibumbui kacang, kecap, atau aneka rempah, Sate Klathak hanya menggunakan garam dan sedikit merica.
Bumbu minimalis ini justru menjadi kekuatannya. Cita rasa asli daging kambing muda yang gurih dan empuk begitu dominan, menjadikan pengalaman makan lebih jujur dan otentik.
Kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik utama, terlebih bagi mereka yang ingin menikmati sate tanpa rasa tertutup oleh bumbu berlapis.
Dari Warung Rakyat ke Destinasi Kuliner Nasional
Dulu, Sate Klathak hanya dijajakan di warung-warung kecil di Pleret, Bantul. Tapi kini, kawasan Jejeran tempat lahirnya kuliner ini telah menjelma menjadi pusat wisata kuliner yang ramai dikunjungi.
Pada akhir pekan dan musim liburan, antrean di beberapa warung legendaris bisa mencapai puluhan meter.
Para pelancong dari luar kota bahkan rela datang jauh-jauh hanya untuk menikmati potongan sate kambing yang ditusuk jeruji ini, lengkap dengan nasi, kuah tongseng, atau kadang disandingkan dengan gulai khas Jawa.
Filosofi Kesederhanaan
Lebih dari sekadar makanan, Sate Klathak mengandung makna mendalam tentang kesederhanaan ala masyarakat Jawa.
Tanpa polesan bumbu yang rumit, kekuatan rasa justru keluar dari teknik memasak dan bahan yang berkualitas.
Nilai ini mengajarkan bahwa dalam hidup, sesuatu yang tampak sederhana bisa punya dampak besar jika digarap dengan tulus dan penuh keahlian. (cor)
Editor : Andi Chorniawan