Jawa Pos Radar Madiun – Menjadikan masyarakat tidak hanya sebagai penonton tetapi pelaku seni, adalah sebuah pencapaian luar biasa.
Hal inilah yang berhasil diwujudkan oleh Ki Cahyo Kuntadi, dalang muda berbakat asal Blitar yang telah mengabdikan hidupnya untuk menjaga eksistensi wayang kulit di era modern.
Ramuan Gaya dari Para Maestro
Sebagai anak dari Ki Sukron Suwanda, dalang kondang Blitar, Ki Cahyo tumbuh dengan cinta dan penghormatan tinggi pada seni pedalangan.
Dalam perjalanannya, ia banyak menyerap ilmu dari berbagai maestro, mulai dari Ki Purbo Asmoro, Ki Anom Suroto, Ki Gondo Darman, Ki Manteb Soedharsono, hingga Ki Narto Sabdo.
Semua inspirasi itu kemudian diramu menjadi gaya pakeliran khas dirinya sendiri yang kini banyak ditiru dalang muda.
Kecerdasannya dalam menggarap lakon dan menyusun iringan karawitan membuat banyak seniman menjadikannya referensi utama.
Tak hanya sekadar membawakan cerita, Ki Cahyo juga dikenal sebagai dalang yang menjiwai setiap karakter, dengan teknik pembawaan yang tepat, tajam, dan emosional.
Lakon Dramatis yang Menyentuh Penonton
Dalam banyak pertunjukannya, Ki Cahyo kerap membawakan lakon yang penuh dramatika dan nilai kemanusiaan, seperti Ranjaban Abimanyu, Sumantri-Sukasrana, atau Gatutkaca Gugur.
Dengan kemampuannya mengolah drama, tak jarang penonton terhanyut bahkan menangis karena cerita yang disuguhkan terasa hidup dan menyentuh hati.
“Wayang adalah seni bercerita, bukan hanya sabet dan hiburan semata. Marwah wayang harus dijaga, karena di dalamnya ada pesan moral dan nilai kehidupan,” ujar Ki Cahyo dalam sebuah perkuliahan di ISI Surakarta, tempat dia mengajar.
Menyuarakan Rakyat Lewat Kritik Sosial
Yang membuat Ki Cahyo berbeda dari kebanyakan dalang lainnya adalah keberaniannya mengangkat isu sosial dan kritik pemerintahan melalui wayang.
Setiap pementasan diselipi humor satir dan sindiran cerdas yang mencerminkan aspirasi rakyat kecil. Penonton pun kerap membalas dengan tepuk tangan riuh sebagai bentuk apresiasi.
“Wayang itu wewayanganing wong urip. Dalang harus bisa menjadi penyambung lidah masyarakat yang penuh keluh kesah,” tegas Ki Cahyo.
Menginspirasi Dalang Muda untuk Berkarya
Sebagai seorang dosen seni pedalangan di ISI Surakarta, Ki Cahyo selalu mendorong para mahasiswa dan dalang muda untuk berani menciptakan karya baru, menyusun sanggit cerita, dan tidak hanya menjadikan wayang sebagai hiburan semata. Da menekankan pentingnya proses kreatif yang bermakna dan bertanggung jawab secara budaya.
Ketekunan, kecintaan pada budaya, dan kepiawaiannya dalam mendalang menjadikan Ki Cahyo Kuntadi sebagai sosok panutan sekaligus inovator dalam dunia pewayangan modern.
Dia membuktikan bahwa wayang kulit bukanlah seni yang usang, melainkan alat komunikasi yang kuat dan tetap relevan untuk zaman sekarang. (den)
Editor : Deni Kurniawan