Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Warga Klaten Ramai-Ramai Kembalikan MinyaKita, Aroma Menyengat Jadi Sorotan

Tim Magang Radar Madiun • Sabtu, 27 Juni 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi MinyaKita (MuriaNews)
Ilustrasi MinyaKita (MuriaNews)

Jawa Pos Radar Madiun - Tak semua bantuan pangan disambut dengan rasa lega. Di sejumlah desa di Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten,

warga justru berbondong-bondong mendatangi kantor desa untuk mengembalikan minyak goreng subsidi MinyaKita yang baru mereka terima.

Penyebabnya bukan karena jumlahnya kurang, melainkan aroma minyak yang dinilai tidak lazim dan menyerupai bau solar atau minyak tanah.

Fenomena tersebut terjadi pada Selasa (23/6/2026), ketika banyak penerima manfaat memilih menukar minyak goreng bantuan pemerintah dengan produk pengganti karena khawatir kualitasnya tidak layak digunakan.

Warga Mengembalikan MinyaKita yang Berbau Menyengat

Aksi penukaran minyak goreng berlangsung di Kantor Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.

Warga membawa sisa MinyaKita yang masih berada dalam kemasan maupun yang telah dipindahkan ke botol plastik untuk dikembalikan kepada petugas desa.

Baca Juga: Sea Dragon, Roket Raksasa yang Nyaris Mengubah Sejarah Eksplorasi Antariksa

Proses penukaran dilakukan dengan menunjukkan kartu identitas (KTP) agar penerima bantuan dapat memperoleh produk pengganti.

Keluhan utama yang disampaikan masyarakat adalah aroma menyengat yang muncul saat kemasan dibuka.

Bau tersebut disebut mirip solar maupun minyak tanah sehingga menimbulkan kekhawatiran apabila digunakan untuk memasak.

Salah satu penerima bantuan, Melani (40), mengaku langsung menyadari adanya bau tidak biasa saat membuka kemasan.

"Baunya apek, seperti solar atau minyak pet (minyak tanah). Begitu dibuka aroma solar tampak banget. Untungnya belum sempat saya gunakan untuk menggoreng, dan hari ini mulai dikembalikan untuk diganti," ungkap salah seorang warga penerima manfaat, Melani (40).

Penukaran Dilakukan Demi Keamanan Konsumsi

Masyarakat memilih tidak mengambil risiko menggunakan minyak goreng tersebut sebelum ada kepastian mengenai kualitasnya.

Karena itu, mereka memanfaatkan kesempatan penukaran yang difasilitasi pemerintah desa.

Langkah ini sekaligus menjadi bentuk antisipasi agar minyak yang diduga bermasalah tidak digunakan untuk mengolah makanan sehari-hari.

Petugas desa menerima minyak yang dikembalikan dan menyiapkan mekanisme penggantian sesuai prosedur yang berlaku bagi penerima bantuan.

Baca Juga: BMW Perkuat Transformasi Mobilitas Masa Depan Lewat Inovasi Kendaraan Listrik dan Teknologi Modern

Aroma Mirip Solar Menjadi Keluhan Utama

Keluhan yang paling banyak disampaikan warga bukan berkaitan dengan kemasan ataupun jumlah minyak yang diterima, melainkan aroma yang dianggap sangat menyengat.

Beberapa warga menggambarkan bau tersebut menyerupai:

Temuan ini membuat masyarakat memilih segera melapor daripada tetap menggunakan produk tersebut.

MinyaKita Merupakan Program Minyak Goreng Bersubsidi

MinyaKita merupakan program minyak goreng bersubsidi yang disalurkan pemerintah untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Karena dikonsumsi secara langsung, kualitas produk menjadi aspek yang sangat diperhatikan. 

Hingga peristiwa ini mencuat, warga berharap minyak pengganti yang disalurkan memiliki kualitas yang sesuai standar sehingga aman digunakan untuk kebutuhan memasak.

Warga Berharap Ada Evaluasi

Kasus yang terjadi di Jogonalan menjadi perhatian karena melibatkan bantuan pangan yang diperuntukkan bagi masyarakat.

Baca Juga: The Watch Co Hadirkan Koleksi Jam Tangan Original dengan Garansi Resmi dan Diskon Menarik

Warga berharap pihak terkait dapat melakukan pemeriksaan terhadap produk yang dikeluhkan sekaligus memastikan distribusi berikutnya berlangsung dengan pengawasan kualitas yang lebih ketat.

Dengan adanya penukaran minyak goreng, masyarakat berharap bantuan yang diterima benar-benar layak konsumsi sehingga tujuan program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan dapat berjalan sebagaimana mestinya. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#klaten #MinyaKita