Jawa Pos Radar Madiun - Harapan untuk kembali menikmati akses jalan yang layak akhirnya terwujud berkat kekuatan gotong royong.
Setelah berbulan-bulan menunggu penanganan pemerintah, masyarakat di kawasan Tajuk Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh,
memilih bertindak sendiri dengan membangun kembali jembatan yang rusak akibat bencana.
Jembatan Enang-Enang resmi dibuka pada Kamis (2/7/2026) melalui prosesi sederhana
yang menjadi simbol keberhasilan perjuangan masyarakat mengembalikan jalur penghubung vital bagi aktivitas sehari-hari.
Jembatan Dibangun dari Dana Swadaya Rp1 Miliar
Jembatan yang berada di Kecamatan Pintu Rime Gayo tersebut dibangun menggunakan dana swadaya masyarakat yang mencapai Rp1,08 miliar.
Seluruh biaya dikumpulkan melalui donasi warga dan para dermawan yang ingin membantu memulihkan akses transportasi di wilayah tersebut.
Baca Juga: Bikin Antusias Penggemar, Anime Spy x Family Rilis PV Terbaru dan Perkenalkan Seiyu Utama
Selain menggalang dana, masyarakat juga terlibat langsung dalam proses pembangunan.
Mereka bergotong royong memperbaiki jalur yang sebelumnya rusak akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025.
Peresmian jembatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin ulama Aceh, Tengku Muhammad Yusuf Nasir atau Abiya Jeunieb.
Doa tersebut menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar jembatan dapat memberikan manfaat dan keselamatan bagi masyarakat.
Pelopor Gerakan Tak Kuasa Menahan Haru
Salah satu penggerak pembangunan, Sahrial Abadi, tampak emosional saat memberikan sambutan dalam acara peresmian.
"Hari ini jalan resmi kita buka. Warga sudah bisa melintas karena proses pengaspalan telah selesai.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu," kata Sahrial dengan suara tercekat.
Di hadapan warga dan para tokoh yang hadir, ia juga memaparkan laporan penggunaan dana secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat.
jangan salah pilihBaca Juga: Sederhana namun Pasti: Kebutuhan dan Perawatan yang Membuat Penampilan Anabul Kucing Jadi lebih Sehat dan Gembul
Rincian Penggunaan Dana Swadaya
Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp1,08 miliar.
Penggunaannya meliputi:
- Rp526 juta digunakan untuk operasional alat berat.
- Pembelian material batu.
- Pengerasan jalan.
- Pengaspalan jalan darurat.
- Pembangunan jembatan.
Sementara itu, Rp555,89 juta sisanya akan dimanfaatkan untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan lanjutan, antara lain:
- Pembangunan dinding penahan jalan (lining).
- Pembuatan fasilitas tempat wudhu.
- Penyempurnaan kawasan rest area di sekitar jembatan.
Sahrial menegaskan seluruh pemasukan dan pengeluaran akan terus dipublikasikan kepada masyarakat.
"Seluruh anggaran swadaya yang diberikan masyarakat secara sukarela akan kami sampaikan secara terbuka kepada publik. Ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan," ujarnya tegas.
Berawal dari Lambatnya Penanganan Pemerintah
Pembangunan secara mandiri ini berawal dari kekecewaan warga terhadap lambatnya penanganan infrastruktur oleh pemerintah.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ini Alasan Rangka Sepeda Berbahan Alloy Tetap Jadi Favorit Banyak Pesepeda
Jalur nasional Bireuen–Takengon di kawasan Enang-Enang mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025.
Akibatnya, jalur utama yang menjadi penghubung kawasan dataran tinggi Gayo sempat lumpuh,
menghambat distribusi logistik dan memaksa masyarakat menempuh rute alternatif yang jauh lebih panjang.
Saat dikonfirmasi, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh menyatakan pembangunan jembatan permanen baru dijadwalkan melalui program pemerintah pusat pada 2027.
Tidak ingin menunggu hingga dua tahun dalam kondisi akses yang terbatas, masyarakat akhirnya memilih membangun jalur darurat secara swadaya agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga dapat kembali berjalan.
Kendaraan Berat Diimbau Gunakan Jalur Alternatif
Meski jembatan sudah dapat dilalui dan jalan darurat telah selesai diaspal, pemerintah daerah tetap mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan keselamatan.
Dinas Perhubungan bersama Satlantas setempat mengimbau kendaraan roda empat bermuatan berat, seperti truk logistik dan tronton, tetap menggunakan jalur alternatif resmi.
Langkah tersebut dilakukan karena jembatan masih berstatus akses darurat dan belum melalui uji kelayakan teknis sebagaimana proyek infrastruktur permanen.
Pembangunan Jembatan Enang-Enang menjadi bukti kuat bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.
Di saat pembangunan infrastruktur belum dapat segera direalisasikan pemerintah, warga memilih bergerak bersama demi memulihkan akses yang menjadi urat nadi perekonomian kawasan dataran tinggi Gayo. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun