Bupati Magetan
HARI Raya kemarin saya bertemu dengan Dekan Fisipol UGM Wawan Mashudi, PhD.,
yang asli Magetan. Biasa, kalau bertemu yang dibicarakan pada akhirnya menyangkut
literasi. Salah satunya, membicarakan program-program UGM khususnya yang terbaru
mengenai pengembangan budaya dan sastra Jawa. Sebagai tindak lanjut, kemudian saya dihubungkan dengan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Prof Dr Setiadi yang memang menaungi jurusan sastra Jawa.
Kita tahu, Fakultas Ilmu Budaya UGM merupakan salah satu fakultas tertua dan
unggul. Salah satu jurusannya adalah sastra Jawa. Namun, setiap tahun jurusan ini termasuk yang sepi peminat. Berdasarkan Seleksi Nasional 2023, dari 14 kursi yang disediakan pendaftaran hanya 167 calon mahasiswa. Bandingkan dengan fakultas kedokteran misalnya. Dari 54 kursi yang disediakan, pendaftarnya 3.802.
Tidak adil rasanya kalau dibandingkan kedokteran. Ternyata, pendaftar jurusan sastra
Jawa masih lebih sedikit dibandingkan sastra Inggris dengan 819 pendaftar dari 20 kursi
tersedia. Bahkan, kalah jauh dengan sastra Jepang. Dari 14 kursi yang disediakan, ada 473 pendaftar. Juga dengan sastra Korea, 20 kursi yang disedikan pendaftar 845.
Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa pendaftar sastra Jawa jauh lebih sedikit
dibandingkan sastra Inggris, Korea, dan Jepang. Salah satu alasan para pendaftar jurusan ini bisa kita tebak, tentu lebih memberi peluang kerja lebih banyak. Bisa kerja di perusahaan asal bahasa. Banyak pengusaha dari asal ketiga bahasa itu yang berinvestasi di Indonesia. Tentu membawa konsekuensi lebih bergengsi kuliah mengambil jurusan tersebut.
Di Indonesia sendiri atau di perusahaan yang dimiliki pengusaha dari Jawa tidak
pernah mensyaratkan harus fasih dan paham bahasa dan budaya Jawa. Bahkan, nihil restoran atau hotel yang berkonsep menu dan nuansa Jawa sakalipun. Tentu ke depan, para alumninya akan kesulitan mencari lapangan kerja.
Berbeda dengan pendidikan sastra Jawa seperti di Universitas Negeri Surabaya
(Unesa). Peminat cukup banyak. Daya tampung 36 kursi peminat 290. Bandingkan dengan sastra Inggris daya tampung 72 kursi peminat 638. Untuk sastra Jerman, daya tampung 30 kursi peminat 66. Dan sastra Jepang daya tampung 36 kursi peminat 223.
Lebih banyaknya peminat sastra Jawa di Unesa, salah satu alasannya karena jurusan
ini diperuntukkan calon pendidik. Tentu para lulusannya akan disiapkan menjadi guru bahasa Jawa di SD,SMP dan SMA/SMK. Dan saat ini profesi guru cukup diminati seiring perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru.
Semakin kecilnya minat terhadap sastra dan budaya Jawa, tentu menjadi perhatian
pemerintah. Bahkan tidak hanya saat ini. Sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era
Orde Baru, Daoed Joesoef menggagas berdirinya lembaga yang akan didedikasikan untuk pengembangan budaya Jawa yaitu Javanologi.
Namun sayangnya, lembaga yang digagas itu kemudian harus dibubarkan oleh
penggantinya. Kita tahu Daoed Joesoef adalah pencentus NKK/BKK. Yang kemudian
dikecam dan dibubarkan. Dianggap mengekang kebebasan mahasiswa. Konsep yang digagas demikian baik, namun dalam praktek terjadi bias.
Demikian juga lembaga Javanologi kalau sudah berkembang, nantinya akan diikuti
dengan Sunda, Batak, dan lainnya. Namun, pendirian lembaga ini dikhawatirkan justru akan merusak persatuan nasional. Ya, akhirnya lembaga Javanologi bernasib tragis, harus dibubarkan.
Kalau waktu itu kita berpikir jernih, sejernih pemikiran Daoed Joesoef, tentu tidak
hanya lembaga Javanologi yang kemudian berkembang. Tapi, juga budaya lainnya yang ada di Indonesia. Karena ada lembaga yang mengkaji, kemudian mengembangkannya. Tidak seperti saat ini, semua pihak justru pesimistis dan mengkhawatirkan pengembangan dan transformasi budaya kita.
Menyadari akan hal tersebut, atas inisiatif Prof Dr Pratikno,MSc sekaligus Mensekneg, FIB UGM kemudian berencana mendirikan Pusaka Jawa. Lembaga ini tentunya akan mencoba menjawab kekhawatiran itu. Dengan banyaknya pakar sekaligus nama besar
UGM, setidaknya akan membawa dampak besar bagi pengembangan sastra dan budaya Jawa.
Kebetulan minggu lalu, Kabupaten Magetan mendapat penghargaan dari Menteri
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan
program transmigrasi bertempat di UGM. Kesempatan itu saya gunakan untuk bertemu
sekaligus berdiskusi dengan Dekan FIB UGM berserta staf lembaga Pusaka Jawa.
Saya mendapat penjelaskan konsep pengembangan sastra dan budaya Jawa melalui
lembaga Pusaka Jawa. Malahan, saya diajak untuk mengunjungi rencana kantor lembaga Pustaka Jawa di seberang FIB UGM. Dikenalkan perancang bangunannya, yang sangat kental dengan nuansa Jawa. Walau menggunakan bekas perumahan dosen.
Pada kesempatan tersebut, saya kemudian mengundang dekan sekaligus staf Pusaka
Jawa untuk hadir di acara bulanan “Bulan Ndadari” yang merupakan malam sastra dan
budaya di Magetan. Yang akan berlangsung tanggal 26 Mei 2023 di Pendopo Surya Graha. Sekaligus mengundang komunitas sastra Jawa di Jawa Timur, baik dari Surabaya,
Tulungagung, dan Bojonegoro.
Pada pertemuan tersebut nantinya akan disampaikan konsep pengembangan Pusaka
Jawa oleh tim UGM. Dan diharapkan dalam diskusi akan ada masukan dalam rangka
pengembangan Pusaka Jawa sekaligus pengembangan sastra dan budaya Jawa. Kita harus berani memulai, kalau bukan kita orang Jawa siapa lagi. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Jangan sampai sastra dan budaya kita hilang ditelan bumi. (*/den) Editor : Hengky Ristanto