Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Dalam Kenangan Musim Salju

Mizan Ahsani • Jumat, 1 Desember 2023 | 04:30 WIB
Ilustrasi cerpen Dalam Kenangan Musim Salju (DANI ERWANTO/RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen Dalam Kenangan Musim Salju (DANI ERWANTO/RADAR MADIUN)

Cerpen: Kak Ian* 

DENGAN bermantel cokelat, bersepatu bot, dan penutup telinga winter berwarna cerah. Secerah hatinya. Hena hari itu ingin ke Saiba Park. Lebih tepatnya menuju di mana Tokyo Tower berdiri dengan kokoh dan gagah. Ia berharap lekas tiba di sana.

Saat itu bertepatan bulan Desember. Bulan-bulannya salju turun sangat deras. Musim salju tiba. Karenanya, hawa di Saiba Park ikut terasa dingin.

Apalagi hari itu Hena akan menemui lelaki pujaannya. kekasihnya yang datang dari Indonesia untuk menemui dirinya dengan menutupi tubuhnya dengan –begitu lengkap. Lebih tepatnya menemui dirinya di taman itu.

Hena, gadis bermuka oriental, bermata sipit, dan berkulit susu, itu merupakan warga asal Indonesia. Tapi, ia memiliki garis keturunan atau berdarah Jepang. Dikarenakan kakeknya asli berdarah Jepang. Ia pun berada di sana sekaligus untuk melanjutkan kuliahnya di Negeri Sakura tersebut.

Saat itu Hena menjadi tidak sabar. Ia ingin segera sampai di taman. Taman itu sering dikunjungi para muda-mudi, seusianya.

Tapi, lain hal dengan Hena. Ia menuju ke tower itu  ingin menemui kekasihnya. Ingin menemui Gun. Begitu nama kekasihnya.

Ah, seperti apa sekarang wajah lelaki itu? Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya,” gumam Hena.

Setiba di Saiba Park, Hena langsung memilih bangku taman untuk menunggu Gun. Sambil menunggu lelaki itu, mata bulatnya tidak berhenti memandangi ke arah indahnya Tokyo Tower.

Dan, saat itulah kenangan manis bersama lelaki pujaannya mendadak menguap kembali. Apakah kenangan tersebut akan kembali bersemi? Pikir Hena saat itu.

Namun, sudah dua jam menunggu di taman, kekasihnya belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal Hena sudah beberapa kali memberikan pesan singkat dan telepon. Tidak juga dibalas, apalagi diangkat, untuk sekadar memberitahukan di mana keberadaan pujaannya itu.

Hena mulai meremas-remas tangannya. Tampak kegelisahan meraja di paras manisnya. Lelaki yang ditunggu belum juga tiba.

Hena tak henti gelisah. Saiba Park mulai ramai kedatangan sepasang muda-mudi yang ingin melihat keindahan Tokyo Tower atau sedang menunggu kekasihnya. Sama seperti yang dilakukan Hena saat itu. Tokyo Tower begitu indah di malam hari. Namun, tidak demikian bagi para muda-mudi yang sedang kasmaran. Tidak melihat waktu. Kapan pun taman itu selalu indah bila ada sang pujaan hati. Tapi, apakah hal itu juga bisa Hena rasakan?

Tak terputus mata Hena menatap ponsel miliknya. Ternyata tidak ada kabar dari kekasihnya. Akhirnya, karena jenuh duduk di bangku taman seorang diri, ia pun bangkit dari bangku taman.

Hena berdiri sambil kembali mengamati jam elektrik di tangan kirinya. Saat itu ia merasakan waktu berjalan begitu cepat. Bunyi detak jamnya terus melaju, berlomba dengan detak jantung. Hena begitu gelisah dan resah.

Ya, ternyata Hena sudah dua jam, oh bukan, malah sudah terhitung tiga jam jika digenapkan.  Menunggu di taman itu seorang diri membuat dia seperti orang yang kehilangan logika. Apakah orang yang sedang kasmaran memang tidak bisa merasakan logika?

Padahal, orang yang ditunggunya belum juga terlihat batang hidungnya.  Hena lagi-lagi diliputi kegelisahan dan keresahan yang mendadak menyelubungi hatinya. Ia menjadi ragu. Apakah benar lelaki itu akan menemui dirinya. Tapi, sudah dua jam lebih, bahkan tiga jam ia menunggu di taman itu, tak seorang pun yang menghampirinya.

“Haruskah aku menunggu lagi beberapa jam?” gumam Hena.

“Mungkin ia bukan orang yang tepat untukku. Jika ia tepat untukku, kenapa tidak menepati janjinya untuk menemuiku di sini,” lanjut Hena bergumam kembali. “Baiklah, aku akan meninggalkan taman ini. Biarlah taman ini menjadi saksi bisu jika aku pernah menunggu lelaki itu.”

Pertahanan hati Hena akhirnya goyah. Ia dengan gontai meninggalkan taman. Tapi, saat ia akan meninggalkan lokasi itu, telepon genggamnya tertinggal di bangku taman. Ia melupakan telepon genggamnya. Padahal di sana ada sebuah pesan masuk yang tidak ia tahu. Pesan itu datang dari Gun, kekasihnya  yang berwajah oriental, berkacamata minus, dan ada lengkungan yang menghiasi pipinya.

MAAF KALAU AKU TIDAK MENEMUIMU. AKU TIDAK SANGGUP UNTUK MENGUNGKAPKAN INI PADAMU, HENA. AKU AKAN SEGERA MELANGSUNGKAN TUNANGAN DENGAN ANAK ATASAN AYAHKU. ITU SEMUA UNTUK TIMBAL JASA KARENA ATASAN AYAHKU SUDAH MEMBEBASKAN UTANG PIUTANG AYAHKU YANG MENGGUNUNG.[]

*Kak Ian, penulis, aktivis anak, dan penikmat sastra. Bergiat di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

Cerpen ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Madiun pada 5 Juni 2022

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #salju #kenangan