Oleh: Ki Damar (*)
SUATU hari di Kadipaten Sengkapura, Raden Kangsa sedang mendiskusikan tentang perebutan kekuasaan. Dia adalah anak dari Basudewa dan Dewi Maerah.
Tapi sesungguhnya bukan anak asli Basudewa dengan Maerah. Dia sebenarnya anak Prabu Gurawangsa yang dulu menyamar menjadi Prabu Basudewa.
Karena Basudewa sangat cinta pada Maerah, maka Raden Kangsa tetap diakui anak.
Kangsa ini adalah seorang satria yang jahat. Dia menginginkan tahta dari Prabu Basudewa.
Pada hari itu, dia menginginkan adu jago. Nah adu jago ini bukan ayam tarung, melainkan adu kesaktian dari jago manusia.
Kangsa mendiskusikan rencananya bersama pamannya yang bernama Suratimantra.
Suratimantra merupakan patih dari raja sebelumnya, yaitu Prabu Gurawangsa yang juga ayah kandung dari Kangsa.
"Paman, bagimana apakah kamu sudah siap bertanding dengan jago dari kerajaan mandura?’" tanya Kangsa.
"Sungguh siap anak prabu, mau bagaimanapun paman ini satria yang tak tertandingi di kadipaten ini," jawab Suratimantra.
"Bagus paman, saya harus bisa melengserkan tahta ayahku, karena selama menjadi raja dia terlalu lemah. Terlalu banyak meminta pendapat orang-orang," sebut Kangsa.
"Dia raja yang tidak punya ketegasan," imbuhnya.
"Benar anak prabu, lebih pantas paduka, masih muda punya kesaktian yang luar biasa, tegas dan wibawa," kata Suratimantra.
"Tapi paman, masih ada anak Basudewa selain aku, aku harus menyingkirkan dia, karena dia adalah penghalang dari rencana kita," kata kangsa.
"Anak prabu, demi paduka kita siap melakukan apa saja, kita akan mencari dan membunuhnya demi keinginan paduka," jawab sang paman, berusaha menenangkan keponakannya.
"Baik paman, karena aku tidak mau ketika aku menjadi raja nanti seseorang menjadi kayu dan api untuk meruntuhkanku," jawab Kangsa.
"Aku ingin siapa saja yang menghalangiku harus disingkirkan. Demi kekuasaan ini kita harus siap berkorban meskipun itu adalah rakyat Mandura," sambungnya, seraya tertawa.
Tak berselang lama, Suratimantra dan prajurit Sengkapura mencari persembunyian anak-anak Basudewa yang lain.
Mereka menuju desa yang dicurigai sebagai tempat persembunyian anak Basudewa, yaitu desa Widarakandang.
Benar saja, mereka menemukan anak Basudewa di sana.
Diketahui, Basudewa punya tiga anak. Yaitu Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng.
Tapi yang berada di sana hanya Rara Ireng. Sementara, Kakrasana dan Narayana sedang berlatih dan mencari ilmu. (bersambung/*/naz)
(*) Penulis merupakan alumnus Isi Surakarta
Editor : Mizan Ahsani