Oleh: Ki Damar (*)
SEMENTARA itu, Permadi sedang berdiam di hutan. Dia merenungi Puntadewa dan Bima yang ditugaskan menjadi jago Mandura.
Dia khawatir andai kakaknya kalah dalam pertandingan.
"Apakah sampean masih merasa khawatir tentang kakak anda, wahai momonganku," tanya semar.
"Iya kakang semar," jawab Permadi.
"Janganlah khawatir. Kakak itu seorang satria yang sangat kuat. Waktu lahir saja dia mampu membunuh seekor gajah dari kahyangan," terang semar.
"Yen ra khawatir ki piye, wong diadu ning kalangan kok ra khawatir, iyo yen balik urip yen mati piye?" Bagong menyahut.
Petruk melontarkan jawaban menggelitik.
"Lha iya pak, kamu tak akan tahu seberapa besar cinta keluarga Pandawa, ora mulih delit ae digoleki," ujarnya.
"Ora koyok kowe, anak pirang-pirang dino ora mulih malah dijarne, jare yen luwe lak mulih dewe. Huuu bapak apa kui. Lha kamu jadi anak merepotkan orang tua saja," sambungnya.
"Isih mangan melu wong tuwa, rokok njikuki gone bapake, direwangi utise wong dijikuk panggah dicolongi wae, umpama duk anakku po ra wis tak ijolne beras kowe?” Semar menyahut.
Semar kembali meyakinkan Permadi bahwa kakaknya akan baik-baik saja di Mandura.
"Momongan saya, Raden Permadi, teguhkan niat dan doa sampean, semoga raden Bima bisa kuat menghadapi cobaan ini," tuturnya.
"Yang namanya siji pesthi, loro jodho, telu wahyu, papat pangkat lima dunya niku manungsa ora ana sing ngerteni kejaba gusti kang gelar jagad," imbuh Semar.
Membulatkan tekad dan mendapat perintah dari Eyang Abiyasa, mereka lantas berangkat ke Mandura.
Sementara itu di Astina, sudah ramai prajurit dari Sengkapura dan Mandura.
Mereka berteriak dengan membawa bendera masing-masing. Genderang dan terompet terdengar riuh, seakan membuat angkasa terbelah.
Para prajurit Sengkapura memprovokasi. "Suratimantra menang, turunkan Basudewa! Raden Kangsa pemimpin kita," teriak mereka.
Dari kubu Mandura, keluarlah Raden Bima yang terkenal kuat dan sakti.
Sementara dari kubu Sengkapura, Raden Suratimantra yang juga tak kalah hebat maju ke depan. (bersambung/*/naz)
(*) Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani