MEDAN pertempuran Kurusetra waktu itu sangat menyeramkan. Banyak bangkai gajah, bangkai kuda, remukan kreta. Tak sedikit pula jasad prajurit.
Di hari ke-18 perang Baratayudha, tokoh kurawa yang masih hidup tersisa dua. Yaitu, Duryudhana dan Sengkuni.
Suatu ketika di pesanggrahan Bulupitu, Narpati Destarata memanggil Sengkuni. Dalam perbincangan, Destaratra meminta pertanggungjawaban Sengkuni.
Di mana, Sengkuni dianggap sebagai dalang di balik semua huru-hara antara pandawa dengan kurawa itu. Perdebatan terjadi antara keduanya.
''Apa yang akan kamu sampaikan setelah kejadian ini semua Sengkuni, apakah kamu bisa menjelaskannya kepada diriku?'' tanya Destarata.
Sengkuni hanya bisa diam dan bisu seribu bahasa mendengar pertanyaan dari kakaknya itu.
''Apakah kamu puas melihat anak-anakku mati di medan perang, kamu puas melihat banyaknya darah yang mengalir di Kurusetra? jawab!'' tambah Destarata tegas.
''Kamu gila, anak-anakku berjumlah seratus mati, kamu masih bertanya hak atas kemarahanku? ucap Destaratra.
Sengkuni, ''Baiklah. Coba dipikirkan, apakah manusia di dunia ini yang paling buruk adalah aku, apakah orang yang paling tidak adil adalah diriku? Maaf kakak, engkaulah yang tidak bertanggung jawab atas tindakanmu,’'.
''Kenapa jadi aku? Apa dasarmu?’’ Destarata heran.
Sengkuni, ''Coba kita lihat, kurawa itu anak siapa? Lalu selama ini apakah engkau mengasuhnya? Saya hanyalah seorang paman yang hanya ingin membantu kakaknya, menjadikan keponakannya menjadi orang sukses”. (*/naz/bersambung)