Oleh: Ki Damar (*)
SONTAK, Sengkuni menanggapi perkataan Duryudana, ''Apakah kau tau keponakanku, saudara-saudaramu mati karena peristiwa yang telah kuperbuat, apakah engkau tidak marah terhadapku?”.
Duryudana, ''Mengapa aku harus marah Paman, semua ini engkau lakukan demi kebaikan kita. Selama berpuluh-puluh tahun aku mendapat kejayaan bersama dengan adik-adikku kurawa. Kita berperang bukan untuk menang, kita mati bukan karena menyesal, tapi kita berperang demi negara yang benar-benar kucintai dan aku bangun selama ini. Baik atau buruk di mata rakyat, aku berusaha menjadikan negara Astina makmur dan damai,''.
Sengkuni, ''Sungguh keponakanku sangat cerdas. Baik dan buruk biarlah Tuhan yang menentukan. Saya melakukan ini karena sesuatu tanggung jawab kepada para keponakanku. Mungkin banyak orang di luar sana berbicara keburukan kita, tapi mereka tak harus tau kebaikan yang pernah kita lakukan. Karena setiap manusia tidak berhak mengadili dan menilai sesama,''.
Usai perbincangan itu, keduanya lantas maju ke peperangan, Kurusetra. Pasukan dipimpin untuk melawan pandawa.
Duryudana tegap dengan kendaraannya berupa gajah yang bernama Kiai Pamuk.
Gajah ini meskipun binatang, tapi dilatih untuk berperang. Tak heran ketika di medan perang, gajah milik Duryudana banyak membunuh prajurit dari pandawa.
Sementara Sengkuni, dengan piawai mengendalikan kereta yang lantas melesat cepat ke Kurusetra.
Meskipun Sengkuni dianggap cuma pintar dalam berdiplomasi negara, tapi dia jugal seorang ksatria. Ya, ksatria di Plasajenar.
Huru-hara kembali terjadi. Sosok pembawa petaka, Sengkuni, didapuk menjadi senopati Astina.
Di lain pihak, Trustajumena (senopati Pandawa) melaporkan bahwa yang menjadi senopati Astina adalah Sengkuni kepada Kresna dan pandawa.
Pihak pandawa sedang menyusun strategi perang saat mendapat kabar itu. Werkudara alias Bima terkejut sektika.
Werkudara akhirnya meninggalkan pertemuan dan langsung menuju ke medan perang. Kakak kedua di pandawa ini punya dendam tersendiri kepada Sengkuni. (*/naz/bersambung)
(*) Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani