Oleh: Ki Damar (*)
DENGAN geram Bima melompat dan berlari menuju Kurusetra. Wajahnya sarat ambisi untuk membunuh Sengkuni.
Bukan tanpa sebab Bima seperti itu. Bima ingat betul semua hal yang telah Sengkuni lakukan kepada pandawa.
Seperti, upaya pembunuhan, kudeta, fitnah, dan sikap sewenang-wenang terhadap pandawa.
Bima menengok kanan dan kiri. Dengan membawa pusakanya (gada rujakpolo), dia mencari keberadaan Sengkuni. Bak harimau yang sedang berburu, siap betul menerkam mangsanya.
Keberadaan kereta milik Sengkuni masuk penglihatan. Bima seketika melompat menjangkau apa yang tengah dicarinya itu.
Kereta Sengkuni langsung hancur ditimpa Bima. Sengkuni pun terhempas. Belum sempat bangkit dari tanah, Sengkuni dihajar habis-habisan oleh Bima. Semua rasa kecewa, sakit hati, dan marah, diluapkan menjadi satu.
Herannya, Sengkuni tidak merasakan kesakitan atas pukulan Bima. Pun, hantaman gada rujakpolo.
Bima terkejut , karena seekor gajahpun akan hancur kepalanya saat ketiban gada rujak polo.
Sengkuni berkata ''Apakah kamu terkejut hai anak Pandu, karena aku tidak apa-apa seperti ini?Jangankan senjatamu itu, senjata dewa kamu pakai tak akan membuat kulitku lecet sedikitpun,''.
Mendengar kata-kata Sengkuni itu, amarah Bima semakin menjadi-jadi karena merasa diremehkan.
Sengkuni kembali berkata, ''Apakah benar ini raden Bima yang dikondangkan ksatria paling banyak membunuh kurawa dan senopati perang Astina? Ah, sungguh aku tidak percaya hanya seperti ini kemampuannya berperang”.
Bima merasa dipermalukan. Dia lantas pergi sesegera mungkin dan mencari Kresna untuk mempertanyakan apa sebab Sengkuni kelewat hebat seperti itu. (*/naz/bersambung)
(*) Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani