Oleh: Ki Damar
MENDENGAR cerita Burisrawa, Baladewa menyuruh untuk bersabar. Namun, orang kecewa dan sakit hati tidak butuh sabar.
Yang ia butuhkan adalah harapannya terpenuhi sesuai apa yang dikehendaki.
Betapa sakitnya hati Burisrawa. Orang yang benar-benar tulus cinta, namun patah di tengah jalan karena sebuah mahar yang tidak bisa dia wujudkan.
Untuk yang belum tahu, Burisrawa adalah anak Prabu Salya, raja dari Mandaraka. Perawakannya menyerupai raksasa, karena kakeknya sendiri raksasa Pandita.
Baladewa berusaha menenangkan.
"Burisrawa, kamu harus menerima takdir ini, karena mau bagaimanapun Permadi adalah jodoh Rara Ireng," ujarnya.
"Aku percaya bahwa engkau benar-benar sayang pada adikku, tapi takdir tidak sesuai dengan harapanmu," imbuhnya.
Burisrawa dengan memalingkan muka seraya menjawab, "Kakak prabu, aku adalah orang yang sangat tidak beruntung. Di antara saudara-saudaraku, hanya aku yang hanya berperawakan raksasa."
"Hanya aku yang berbeda. Meksi begini, aku adalah keturunan kakekku yang seorang pandita raksasa," sambung Burisrawa.
Baladewa berusaha meredakan kegundahan Burisrawa. "Saya percaya bahwa Rara Ireng tidak melihat fisik, tapi hatinya," kata dia.
Burisrawa tak terima. Ia menjawab dengan tegas.
"Bohong! Kakak berkata wanita hanya melihat hati. Di zaman sekarang, wanita melihat fisik, melihat jabatan, melihat derajat seseorang! Bila ada wanita melihat hati, pastinya dia bukanlah manusia tetapi seorang bidadari. Wanita di dunia ini semua pastilah begitu," jawab Burisrawa.
Kata-kata Burisrawa membuat Baladewa terhenyak.
"Apakah kau menilai adikku seperti itu? Burisrawa, engkau bicara seperti itu karena engkau sakit hati," ujarnya.
"Bila kau menemukan jodohmu, engkau tak akan bilang seperti ini. Aku percaya di dalam doamu itu yang kau panjatkan untuk adikku, ada wanita yang lebih besar dan kuat doanya meminta kamu untuk menjadi jodohnya," lanjut Baladewa. (naz/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani