Oleh: Ki Damar
DENGAN bersemangat, Prabu Karungkala menyanggupi permintaan Begawan Durna dan segera undur diri.
Dia mengerahkan para prajurit untuk membuat onar di Sumur Jalatunda.
Di sana, Anoman dan anak-anak Pandawa adalah santri dari Begawan Bimasuci. Mereka mempunyai kewajiban menjaga ketentraman.
Karena kedatangan Prabu Karungkala dan bala tentaranya, pertapaan menjadi sangat kacau.
Anoman dan anak Pandawa sudah mencoba melawan Prabu Karungkala. Namun mereka bukan tandingannya.
Anoman lantas menyuruh para keponakannya untuk menutup pintu pertapaan dan segera menghaturkan kejadian ini pada sang guru Bimasuci.
Karena Bimasuci masih terlihat mengajarkan ilmunya kepada para santri dan masyarakat, Anoman tak berani melaporkan kejadian ini dan memilih menunggu sang guru selesai.
Sang Bimasuci sangat digemari masyarakat karena dia sangat tegas dan gamblang waktu mengajarkan ilmunya.
Sampai-sampai Kahyangan Suralaya dibuat geger karena keberadaan Bima.
Sang Batara Guru sangatlah resah.
Dikhawatirkan, Bima ini sedang mengajarkan aliran sesat. Batara Guru juga merasa cemburu karena semenjak itu dia bukan dewa yang disembah. (naz/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani