Oleh: Ki Damar
MENDENGAR hal itu, Batara Guru menyuruh Batara Penyarikan untuk menambahkan di kitab bahwa Baladewa harus bertarung dengan Antareja.
Anehnya, belum sampai Batara Penyarikan menulis, ada seekor kumbang yang terbang dan menumpahkan tinta ke kitab tersebut.
Tak cukup dengan hanya membuat kitab Pakem Baratayudha basah, si kumbang juga membawa kitab tersebut kabur.
Para dewa bergegas pergi mengejar kumbang itu.
Panah Batara Penyarikan berhasil mengenai kumbang itu, membuatnya berubah wujud menjadi Narayana.
Batara Narada menghampiri Narayana dan bertanya apa alasannya mengganggu persidangan dewa.
"Kenapa Baladewa dan Antareja harus dimusuhkan, bila mereka bertarung, maka Kurusetra tak akan jadi tanah. Pasti akan hancur lebur!" ujar Narayana.
Narada kemudian meminta Narayana untuk memberikan saran. Ia kemudian menyarankan bahwa Antareja harus mati sebelum Baratayudha demi menjaga agar perang tak berat sebelah.
Baladewa juga harus disembunyikan, jangan sampai diketahui. Sebab, Baladewa akan bermanfaat kelak ketika perang telah usai.
Narada setuju dengan saran Narayana.
Batara Guru lantas membuat kesepakatan. Dia menyatakan bahwa Kresna harus bertanggung jawab atas jalannya Baratayudha, dan memasrahkan kitab Pakem Baratayudha diambil Kresna.
Tapi, ia minta kembang Wijaya Kusuma sebagai gantinya.
Sebab, Baratayudah adalah hal sakral di mana orang yang berutang harus menanggung sendiri. Sehingga, Kresna tak bisa menghidupkan siapa saja yang mati. (naz)
Editor : Mizan Ahsani