Oleh: Ki Damar*
DI tengah lautan darah, Dasamuka menantikan Danapati sambil memanggul pedangnya dan berteriak.
"Keluarlah engkau, kakak yang kucinta. Ini aku. Adikmu rindu padamu. Bahkan darah ini saksi puncak kerinduanku padamu. Hahaha."
Danapati akhirnya menampakkan batang hidungnya.
"Apa yang kau lakukan adikku? Kenapa kau menyerang Lokapala dan membunuh rakyat yang tak berdosa?"
Mendengar itu, Dasamuka terheran.
"Apa? Coba ulangi kata-katamu! Rakyatmu tak berdosa? Bahkan rakyatmu ikut memikul dosamu karena perilakumu pada ayahku, Wisrawa. Kau juga membakar kerajaan peninggalan eyangku."
"Kau tahu akibatnya bila seorang raja menyerang negara lain itu artinya apa? Ya, itu peperangan selayaknya apa yang kau lakukan dahulu akibat kekecewaanmu atas ke-egoisanmu demi nafsu!"
Tak ada lagi kata-kata. Pedang yang saling bertemu.
Dasamuka dan Danapati bertarung sengit. Keduanya punya ajian yang yang membuat mereka tidak bisa mati.
Dasamuka punya aji pancasona. Sedangkan Danapati punya aji rawarontek.
Setiap mati, mereka hidup kembali. Bahkan sampai berhari-hari, pertarungan kakak adik ini tak kunjung usai.
Dewa mulai khawatir dengan Danapati.
Mereka lantas mencabut nyawa Danapati. Kakak tewas. Sang adik menang.
Dasamuka begitu gembira. Ia kelak menggabungkan Lokapala dengan Selogringging.
Gabungan kedua kerajaan diberi nama Ngalengka.
Dasamuka sangat bangga atas dirinya sendiri. Sebab hanya dia yang dapat menggabungkan dua negara menjadi satu.
Dan inilah puncak kejayaan Dasamuka. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani