Oleh: Ki Damar*
GENDERANG perang telah berlalu lama. Banyak kera dan raksasa mati karena bengisnya peperangan.
Sang Rahwana selalu berupaya menyusun siasat kemenangan untuk Alengka.
Namun semakin hari, anak, saudara, dan prajurit semakin banyak yang tewas oleh Prabu Ramawijaya dan pasukan kera yang dipimpinnya.
Hal ini yang membuat Rahwana marah.
Bisa-bisanya kerajaan raksasa yang adidaya hancur dan musnah hanya karena sekumpulan monyet hutan yang serakah.
Sarpakenaka, adik Rahwana, juga mati.
Tersisa Indrajit, putra Rahwana, serta Kumbakarna dan kedua anaknya yang bernama Kumba-Kumba dan Aswani Kumba.
Terus terdesak, Rahwana meminta Indrajit untuk memanggil kedua anak Kumbakarna.
Sejatinya, usia mereka masih tergolong muda.
Kehabisan akal, Rahwana memilih untuk membohongi anak Kumbakarna bahwa sang ayah telah mati di medan perang.
Dibohongi oleh Rahwana, Kumba-Kumba dan Aswani Kumba hendak membalaskan dendam sang ayah.
Namun apa daya, kepala mereka justru ditebas Rahwana.
Rupanya ini merupakan siasat Rahwana. Supaya Kumbakarna bangun dari tidurnya dan mau membela Alengka.
Dengan penuh ketakutan, Indrajit tak punya pilihan selain berusaha membangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur.
Ia tak dapat menolak perintah sang ayah yang kejam tersebut. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani