Oleh: Ki Damar*
CANGIK dan Limbuk adalah sosok wayang penghibur atau emban di kedaton, tempat permaisuri tinggal.
Kedua emban ini adalah yang membantu keperluan kebutuhan permaisuri kerajaan.
Limbuk dan Cangik juga kerap digunakan dalang dalam pementasan atau pagelaran wayang kulit.
Dalam kebanyakan pementasan, dalang menggunakan Limbuk dan Cangik untuk menyampaikan informasi seputar acara pementasan wayang.
Kedua tokoh wayang ini juga kerap digunakan untuk menyampaikan adegan berisi banyolan atau lawakan.
Masyarakat, khususnya para penggemar wayang, kerap menantikan adegan lucu dari Limbuk dan Cangik.
Limbuk dan Cangik juga media dalam memamerkan kepiawaian seorang pesinden dalam bernyanyi atau nembang, serta menari.
Dulu, adegan-adegan seperti ini hanya disampaikan sekilas.
Misalnya, ada adegan di mana Limbuk dan Cangik menemani permaisuri, menunggu kedatangan sang raja.
Nah, di adegan itulah petuah dan wejangan diselipkan untuk penonton.
Limbuk digambarkan sebagai seorang anak yang polos, tidak tahu tentang ilmu kehidupan dan bermasyarakat. Sebab hidupnya banyak ia habiskan di kerajaan.
Cangik berperan sebagai guru yang memberi Limbuk wawasan tentang hal-hal yang tidak ia ketahui. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani