Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

TOKOH WAYANG | Para Punakawan (3) - Gareng yang Tak Sempurna

Mizan Ahsani • Sabtu, 23 Maret 2024 | 03:30 WIB
Photo
Photo

Oleh: Ki Damar*

GARENG yang kita kenal juga merupakan tokoh Punakawan, pengikut kesatria sekaligus anak dari Semar.

Ia mempunyai ciri fisik yang kurang.

Misalnya seperti kaki yang pincang, mata yang juling, tangan yang cekot, dan hidung yang bundar.

Tapi, para pujangga dahulu membuat tokoh tidak asal. Tentu saja, penggambaran karakter Gareng ini juga mengandung makna.

Kaki Gareng yang pincang menggambarkan manusia agar jangan pernah berjalan pada keburukan.

Mata Gareng dibuat juling untuk memberi pesan agar manusia tak melihat keburukan orang lain.

Tangan yang cekot artinya manusia janganlah tamak dan mengambil barang yang bukan haknya.

Sedangkan hidung bundar artinya manusia harus mencium aroma kebaikan.

Gareng dahulu adalah tokoh yang tampan.

Namanya Bambang Sukodadi, asalnya dari Padepokan Bluluktibo.

Suatu saat, ia bertapa. Hasil dari bertapa ini membuatnya menjadi sakti.

Pada akhirnya, Gareng menjadi sombong dan gemar menantang banyak orang.

Bahkan, ia bertarung sengit dengan Petruk, meski akhirnya tidak ada yang menang maupun kalah.

Pertarungan Gareng dan Petruk dilerai oleh Ismaya alias Semar dalam bentuk Janggan Asmarasanto.

Bambang Sukodadi yang mendapat nasehat dan ilmu oleh Asmarasanta akhirnya tersadar.

Dia kemudian bersedia diangkat anak oleh Semar. (naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Punakawan #cerpen #Tokoh #semar #wayang #Bagong #petruk #gareng