Oleh: Ki Damar*
MENDENGAR perkataan pamannya, Anoman dan Anggada menundukkan kepala.
Lalu, Prabu Sugriwa menyuruh keduanya menghadap Prabu Rama untuk meminta maaf atas perselisihan ini.
Sugriwa sangatlah malu karena ditonton oleh para wanara atau kera. Dimana para kera sangat takut, bahkan sampai ada yang menangis melihat kejadian itu.
Setelah menghadap Prabu Rama, mereka meminta maaf tentang kejadian tadi. Prabu rama memaafkan mereka.
Menurutnya, posisi duta memang diinginkan setiap manusia, bahkan mereka rela tumpang tindih atau bahkan mengorbankan nyawa orang terdekat.
Prabu Rama kemudian mengimbau kepada Anoman dan Anggada agar lebih bijak menggunakan akal dan hati.
Jangan dijadikan kedudukan duta ini menjadi ajang kegilaan untuk saling bertengkar, karena sesama wanara atau kera adalah berkeluarga.
Menjaga martabat kera yang berbudi luhur memanglah berat, tapi lebih berat menjaga kepercayaan seseorang.
Sebab, berkhianat adalah seungguhnya membohongi dirinya pada orang yang dipercaya.
Anoman dan Anggada akhirnya bisa legawa dengan siapa saja yang dikehendaki Prabu Rama untuk diutus ke Alengka.
Prabu Rama menghela nafas dalam dan memutuskan bahwa Anoman, sesuai kesanggupannya, terpilih menjadi duta.
Anggada memeluk Anoman, memberi selamat atas dipercayanya dia sebagai duta.
Prabu Rama memberikan cincin setya ludira agar diberikan kepada shinta sebagai bukti dia adalah duta Prabu Rama. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani